Mauricio Pochettino telah memberikan kemenangan bagi Amerika Serikat di laga perdana Piala Dunia 2026. Pelatih asal Argentina itu sejatinya memiliki pengalama muram di Piala Dunia. Kini, setelah 24 tahun, sepertinya dia ingin membangun kenangan yang lebih baik bersama Amerika.
Semasa menjadi pemain, Pochettino adalah bek timnas Argentina. Dia hanya sekali mengikuti Piala Dunia yakni pada 2002 yang kala itu dilaksanakan di Jepang dan Korea Selatan. Argentina menjadi salah satu kandidat juara.
Tapi faktanya, Argentina babak belur dan gagal lolos dari fase grup. Selama tiga kali laga di fase grup, Pochettino selalu bermain penuh di posisi bek. Argentina menang sekali, kalah sekali, dan seri sekali. Itu tak cukup membawa Argentina lolos ke babak gugur.
Dari kegagalan itu, Pochettino adalah sosok yang dapat sorotan. Kekalahan Argentina didapatkan melawan Inggris. Inggris menang 1-0 melalui gol penalti Davod Beckham. Tahukah siapa yang membuat Inggris dapat penalti? Dialah Pochettino yang melakukan pelanggaran ke Michael Owen di kotak terlarang.
Pochettino jadi sorotan tajam. Setelah Piala Dunia 2002, namanya berangsur surut karena faktor usia, Pochettino lahir pada 1972. Maka, sebagai pemain Pochettino hanya sekali merasakan Piala Dunia yakni pada 2002 dan itu menjadi kenangan yang muram.
Pochettino Debut di Piala Dunia sebagai Pelatih
Setelah tak lagi menjadi pemain, Pochettino menjadi pelatih di beberapa klub. Sampai akhirnya pada 2024, dia menjadi pelatih Amerika Serikat. Tentu saja, Pochettino akan merasakan Piala Dunia karena Amerika main di Piala Dunia 2026 tanpa kualifikasi sebagai sebagai salah satu tuan rumah.
Di tangan Pochettino, Amerika kemudian mampu mendapatkan kemenangan telak melawan Paraguay dengan skor 4-1, Sabtu (13/6/2026) pagi. Gol Amerika dibuat Folarin Balogun menit 31 dan 45+4, Giovanni Reyna menit 90+8, gol bunuh diri pemain Paraguay Damian Bobadilla menit 7. Satu gol Paraguay dibuat Mauricio menit 73.
Itu adalah debut Pochettino sebagai pelatih di Piala Dunia. Dia berkesempatan membangun memori indah di Piala Dunia sebagai pelatih. Setelah 24 tahun yang lalu dia disorot sebagai salah satu biang keladi kegagalan Argentina.

