cilacaptoday.comcilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Reading: Petani Hortikultura Terjepit Lonjakan Harga Plastik dan Pestisida
Share
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Search
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Follow US
cilacaptoday.com > Artikel > Banyumas Raya > Petani Hortikultura Terjepit Lonjakan Harga Plastik dan Pestisida
Banyumas Raya

Petani Hortikultura Terjepit Lonjakan Harga Plastik dan Pestisida

Heri Cahyono
Last updated: 14 April 2026 09:07
Heri Cahyono
Published: 14 April 2026
Share
Petani Hortikultura Terjepit Lonjakan Harga Plastik dan Pestisida
Aktivitas jual beli pertanian di Banjarnegara, Selasa (14/4/2026). (foto: Heri Cahyono)
SHARE

Sektor pertanian rakyat tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga sarana produksi pertanian (saprotan) yang terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas plastik pertanian dan pestisida, yang memicu pembengkakan biaya tanam secara drastis.

Contents
  • ​Faktor Eksternal Jadi Pemicu
  • ​Ancam Margin Keuntungan

​Urip, salah seorang petani hortikultura di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik mulsa menjadi beban yang paling terasa bagi para petani. Tak hanya itu, peralatan penunjang seperti tangki semprot pun ikut mengalami kenaikan harga.

​”Plastik pertanian paling banyak kenaikannya. Harga tangki semprot dan alat lainnya naik sekitar 20 persen. Sementara pupuk non-subsidi dan pestisida melonjak antara 20 hingga 30 persen,” ujar Urip saat ditemui pada Selasa (14/4/2026).

 

​Faktor Eksternal Jadi Pemicu

Kenaikan harga ini ditengarai dipicu oleh faktor hulu dan kondisi ekonomi global. Mahalnya bahan baku plastik yang merupakan turunan dari minyak bumi dunia menjadi penyebab utama kenaikan harga mulsa. Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut mendongkrak harga pestisida, mengingat sebagian besar bahan aktifnya masih mengandalkan impor.

​Sebagai gambaran nyata di lapangan, harga plastik mulsa ukuran roll besar yang semula berada di kisaran Rp750.000, kini melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp1,1 juta per roll.

 

​Ancam Margin Keuntungan

Kondisi ini membuat para petani di Banjarnegara harus memutar otak. Sebagian mulai menyiasati keadaan dengan mengurangi penggunaan sarana produksi atau melakukan penyesuaian pola tanam. Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu meredam tekanan biaya yang ada.

​Sarjono, petani lainnya, menegaskan bahwa plastik mulsa adalah kebutuhan primer dalam budidaya hortikultura, bukan sekadar pelengkap. Penggunaan mulsa sangat krusial untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan pertumbuhan gulma.

Baca Juga  Viral Teror Pocong Di Purbalingga, Polres Purbalingga Pastikan Itu Hanya Hoaks

​”Kondisi ini sangat menekan petani. Jika kenaikan biaya produksi ini tidak dibarengi dengan kenaikan harga jual hasil panen, maka keuntungan kami akan semakin menipis,” keluh Sarjono.

​Para petani kini diliputi kekhawatiran jika tren kenaikan harga saprotan terus berlanjut, margin keuntungan mereka akan tergerus habis. Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan motivasi serta kapasitas produksi petani pada musim tanam mendatang, yang pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas stok pangan di pasar.

 

Investasi Bodong Mandiri Taspen Purwokerto: Pelaku Dipecat, DPR Turun Tangan Amankan Rp13 Miliar
Bupati Purbalingga Jamin Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok Saat Ramadan
Banyumas Bidik Pasar Kerja Jerman, BLK Khusus Segera Dibentuk
Polres Purbalingga Salurkan 10 Sapi dan 21 Kambing Kurban untuk Masyarakat
Gemilang Bersama Persibangga, Afif Teguh Incar Tiket Promosi Liga Nusantara
TAGGED:Banjarnegaraharga plastikpestisida
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Threads Copy Link
TAHUN BARU ISLAM 26 CT
Berita Populer
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Standar Pedoman Penyelesaian Sengketa Pers
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan