cilacaptoday.comcilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Reading: Ngabuburit Sambil Jaga Sejarah, Tugu Kusaeri Jejak Pemberontakan PETA Melawan Jepang
Share
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Search
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Follow US
cilacaptoday.com > Artikel > Cilacap > Ngabuburit Sambil Jaga Sejarah, Tugu Kusaeri Jejak Pemberontakan PETA Melawan Jepang
Cilacap

Ngabuburit Sambil Jaga Sejarah, Tugu Kusaeri Jejak Pemberontakan PETA Melawan Jepang

Tri Aji
Last updated: 9 Maret 2026 18:18
Tri Aji
Published: 9 Maret 2026
Share
Tugu Kusaeri Gumilir Cilacap Sejarah Pemberontakan PETA
Anggota komunitas Tjilatjap History mengecat ulang tugu juang Kusaeri di Gumilir Cilacap. (Tjilatjap History).
SHARE

Cara berbeda dilakukan para pegiat sejarah di Kabupaten Cilacap untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa selama Ramadan. Alih-alih sekadar bersantai, mereka memilih melakukan kegiatan yang bermanfaat dengan merawat salah satu situs sejarah di daerah tersebut.

Contents
  • Ngabuburit Sambil Rawat Jejak Sejarah
  • Kisah Pemberontakan PETA di Gumilir
  • Kusaeri Dijatuhi Hukuman Mati

Sejumlah anggota komunitas Tjilatjap History memanfaatkan waktu ngabuburit dengan mengecat ulang Tugu Juang Kusaeri yang berada di Jalan Abiyasa, Kelurahan Gumilir, Cilacap. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap peninggalan sejarah sekaligus upaya menjaga ingatan kolektif tentang perjuangan tokoh lokal.

 

Ngabuburit Sambil Rawat Jejak Sejarah

Salah satu anggota komunitas Tjilatjap History, Sindu Pramono mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga penanda sejarah yang ada di wilayah Cilacap.

“Ngabuburit sejarah ini untuk merawat dan melestarikan penanda perjuangan di tanah Cilacap ada di sini,” ujar Sindu, Senin (9/3/2026)

Menurutnya, keberadaan Tugu Juang Kusaeri tidak hanya sekadar monumen biasa. Tugu tersebut menjadi simbol perlawanan rakyat Cilacap terhadap kekejaman tentara Jepang pada masa pendudukan.

Ia menilai monumen tersebut perlu dirawat agar generasi muda tetap mengenal sejarah perjuangan para tokoh lokal, khususnya sosok Kusaeri yang dikenal memimpin pemberontakan pasukan PETA terhadap Jepang.

“Selain peristiwa Cilacap Lautan Api, jejak perlawanan PETA pada zaman Jepang ini juga tertoreh dalam sejarah nasional. Jadi pantas untuk kita kenang dan lestarikan,” ungkapnya.

 

Kisah Pemberontakan PETA di Gumilir

Sindu menjelaskan, sejarah Kusaeri bermula dari perlawanan yang terjadi di wilayah Gumilir pada 21 April 1945. Saat itu, di bawah kepemimpinan Budanco, satu kompi tentara PETA berhasil merebut senjata dan amunisi dari gudang milik Jepang.

Baca Juga  Lanal Cilacap Nobar Film “The Hostage’s Hero 2026” Tanamkan Semangat Kepahlawanan

Setelah melakukan aksi tersebut, kelompok pemberontak kemudian melarikan diri menuju Gunung Srandil yang dijadikan sebagai basis pergerakan mereka.

“Mereka kemudian melarikan diri menuju Gunung Srandil yang digunakan sebagai basis gerakannya,” jelasnya.

Namun pemberontakan itu akhirnya berhasil dipadamkan setelah adanya bujukan dari Sudirman, yang saat itu menjabat sebagai Daidanco PETA di Kroya.

Para prajurit PETA yang menyerah saat itu meminta jaminan kepada Jepang agar mereka tidak disiksa, serta desa-desa yang membantu para pemberontak tidak mendapat serangan.

“Mereka meminta imbalan kepada Jepang agar prajurit PETA yang menyerah tidak disiksa dan kampung-kampung yang menyembunyikan para pemberontak tidak ditembaki,” terang Sindu.

 

Kusaeri Dijatuhi Hukuman Mati

Meski demikian, Kusaeri bersama 18 rekannya tetap dianggap sebagai otak pemberontakan oleh pihak Jepang. Mereka kemudian diadili dalam sidang militer yang digelar pada 10 Mei 1945.

Dalam persidangan tersebut, Kusaeri dijatuhi hukuman mati, sementara rekan-rekannya menerima hukuman penjara mulai dari 15 tahun hingga seumur hidup.

Namun terdapat fakta menarik dari kisah tersebut. Hukuman mati terhadap Kusaeri tidak pernah sempat dilaksanakan karena Jepang lebih dulu menyerah kepada Sekutu pada akhir Perang Dunia II.

“Inilah sekilas sejarah Tugu Juang Kusaeri. Ada yang menarik karena hukuman mati terhadap Kusaeri tidak pernah dilaksanakan hingga Jepang keburu menyerah,” pungkas Sindu.

 

Vonis Ringan Eks Pj Bupati Cilacap di Kasus PT CSA Tuai Sorotan
Berkeliling ke Desa Wisata Sendang Kencana, Agrowisata Unggulan di Desa Sindangbarang Cilacap
Hari Kedua Pencarian, 2 Remaja Terseret Ombak Pantai Menganti Belum Ditemukan
Evaluasi Pemkab Cilacap Disorot, LSM Seroja: Harus Jadi Momentum Pembenahan
Proyek Raksasa di Barat Cilacap! Bendungan Matenggeng Telan Dana Rp 7 Triliun, Bakal Jadi PLTA Super Jumbo
TAGGED:sejarah cilacaptjilatjap historytugu kusaeri
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Threads Copy Link
TAHUN BARU ISLAM 26 CT
Berita Populer
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Standar Pedoman Penyelesaian Sengketa Pers
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan