Sebuah pesan terbuka yang berisi curahan hati (curhat) memilukan dari seorang ayah kepada anaknya mendadak viral dan menjadi sorotan netizen. Pesan tersebut membawa pesan refleksi mendalam mengenai peran krusial ayah sebagai pendidik utama dalam keluarga, sebuah posisi yang sering kali terabaikan akibat hiruk-pikuk kesibukan duniawi.
Dalam untaian kalimat yang penuh haru, sang ayah mengungkapkan penyesalan terdalamnya karena merasa telah melewatkan masa-masa emas untuk membimbing buah hatinya mengenal nilai-nilai ketuhanan dan akhlak sejak dini. Ia mengaku terlalu sering tersita oleh ambisi dan tuntutan hidup, sehingga abai menanamkan fondasi iman sebelum sang anak mengenal dunia luar.
”Ayah menyesal karena seharusnya ayah yang pertama mengajarkanmu tentang keindahan membaca, tentang cinta yang tulus, tentang doa yang memanggil pertolongan Allah,” tulisnya dalam pesan tersebut. Ia menyadari bahwa ketika anak bertanya tentang hakikat hidup, ia sering kali hanya memberikan jawaban semu atau bahkan tak mampu menuntun ke arah cahaya yang hakiki.
Landasan Spiritual dalam Mendidik Anak
Penyesalan sang ayah ini sejalan dengan peringatan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Thaha ayat 132: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu shalat dan bersabarlah kamu dalam menunaikannya…” Ayat ini, menurutnya, bukan sekadar perintah formal, melainkan mandat bagi seorang ayah untuk menjadi pemimpin spiritual yang menuntun langkah iman sang anak sejak dini.
Ia juga menyoroti bahwa tanggung jawab mendidik bukan hanya bertumpu pada pundak ibu. Merujuk pada Surat Luqman ayat 14, ia menegaskan bahwa ayah sebagai kepala keluarga memegang peran sentral sebagai “cahaya pertama” bagi anak-anaknya.
”Ayah menyesal karena terkadang ayah lupa bahwa mendidikmu bukan hanya kewajiban ibumu. Ayah seharusnya menjadi guru pertamamu sebelum dunia menodai hatimu dengan kebingungan,” lanjutnya.
Momentum untuk Berubah
Meski didera penyesalan, pesan tersebut juga membawa angin segar berupa harapan. Sang ayah menekankan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan. Ia bertekad untuk hadir sepenuhnya sekarang, mendampingi anak membaca Al-Qur’an, mengajarkan doa harian, dan memberikan teladan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.
Ia berharap kisahnya menjadi pelajaran bagi para orang tua lain agar tidak membiarkan dunia menjadi guru pertama bagi anak-anak mereka. Sebab, dunia sering kali memberikan jawaban yang menyesatkan jika tidak dibekali dengan filter keimanan yang kokoh dari rumah.
”Penyesalan ayah adalah bentuk cinta yang sadar. Ayah ingin engkau tumbuh dalam keimanan yang kokoh dan kasih sayang yang menyejukkan,” tutupnya dalam doa yang tulus.
Pesan ini menjadi pengingat bagi setiap orang tua, khususnya para ayah, bahwa setiap detik yang dilewatkan tanpa bimbingan spiritual adalah kerugian yang tak dapat diputar kembali, namun setiap usaha perbaikan hari ini adalah investasi untuk akhirat kelak.

