Ka’bah, kiblat suci umat Islam di seluruh dunia, merupakan simbol ketauhidan yang dijaga langsung oleh Allah SWT. Namun, literatur Islam menyebutkan bahwa bangunan suci ini tidak akan berdiri selamanya. Dalam berbagai hadis sahih, Rasulullah SAW telah memberikan nubuwat mengenai peristiwa memilukan di akhir zaman: hancurnya Ka’bah sebagai tanda besar (kiamat kubra).
Kehancuran ini dikabarkan bukan disebabkan oleh bencana alam biasa, melainkan dilakukan secara sengaja oleh sosok tertentu. Hal ini terjadi justru saat nilai-nilai tauhid mulai memudar dan iman manusia di ambang kepunahan.
Sosok Dzu as-Suwaqatayn dari Habasyah
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, sosok yang akan meruntuhkan Ka’bah adalah seorang pria dari Habasyah (Ethiopia). Rasulullah SAW bersabda:
يُخَرِّبُ الكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الحَبَشَةِ
”Ka’bah akan dihancurkan oleh seorang laki-laki yang memiliki betis kecil dari Habasyah.” (HR. Bukhari no. 1595 & Muslim no. 2909).
Sosok ini dijuluki Dzu as-Suwaqatayn, yang secara harfiah berarti “si pemilik dua betis yang kecil/kurus”. Dalam riwayat lain, digambarkan ia akan mencabut batu demi batu Ka’bah hingga rata dengan tanah.
Perbedaan Perlindungan Allah: Zaman Abrahah vs Akhir Zaman
Sejarah mencatat betapa Allah melindungi Ka’bah dari serangan pasukan gajah Abrahah dengan mengirimkan burung Ababil (QS. Al-Fil: 1-5). Namun, mengapa di akhir zaman Allah membiarkan Ka’bah hancur?
Para ulama menjelaskan bahwa saat peristiwa Abrahah, Ka’bah adalah simbol yang harus dijaga untuk menyambut risalah Islam yang akan dibawa Nabi Muhammad SAW. Sementara di akhir zaman, kehancuran Ka’bah diizinkan Allah sebagai tanda bahwa dunia telah rusak dan tidak ada lagi manusia yang mengagungkan-Nya.
Indikasi Menipisnya Iman
Sebelum peristiwa penghancuran tersebut terjadi, Rasulullah SAW memberikan gambaran situasi sosioreligius umat manusia:
Ibadah Haji Terhenti: Kiamat tidak akan terjadi hingga Baitullah benar-benar ditinggalkan dan tidak ada lagi yang menunaikan ibadah haji (HR. Ahmad).
Hilangnya Kalimah Allah: Dunia akan mencapai titik di mana tidak ada lagi lisan yang mengucapkan “Allah, Allah” (HR. Muslim).
Islam Kembali Asing: Nilai-nilai Islam memudar hingga agama ini kembali terasa asing di tengah manusia.
Refleksi bagi Umat
Hancurnya Ka’bah menjadi simbol berakhirnya syariat di muka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Rahman ayat 26-27, segala sesuatu di bumi bersifat fana, dan hanya Allah yang kekal.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam saat ini untuk terus menjaga api keimanan. Selama Ka’bah masih berdiri tegak dan azan masih berkumandang, pintu tobat dan kesempatan untuk mempertebal takwa masih terbuka lebar sebelum fitnah akhir zaman benar-benar merajalela.

