Fenomena pamer kemewahan (flexing) hingga pencitraan di media sosial kini kian menjamur. Tak jarang, hal ini memicu perasaan tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan masyarakat modern. Di tengah standar kebahagiaan yang sering kali semu tersebut, menjaga kesehatan mental agar tetap ‘waras’ menjadi tantangan spiritual tersendiri.
Rasulullah SAW telah memberikan isyarat bahwa akan datang suatu masa yang penuh fitnah. Pada masa tersebut, hal yang batil sering kali dipoles sedemikian rupa hingga terlihat indah, sementara kebenaran terasa berat untuk dijalani.
Jebakan ‘Panggung’ Media Sosial
Banyak individu sebenarnya menjalani hidup yang stabil dan berkecukupan. Namun, perasaan merasa “kurang” muncul karena terlalu sering memantau “panggung” kehidupan orang lain di layar gawai. Padahal, apa yang tersaji di media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas yang ada. Senyum bisa direkam, namun luka sering kali disembunyikan.
Alquran telah mengingatkan bahwa dunia memang memiliki sifat yang menipu pandangan manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali ‘Imran ayat 14:
“Dijadikan indah bagi manusia kecantikan kepada apa-apa yang diingini…” (QS. Ali ‘Imran: 14).
Hal senada ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim, “Sesungguhnya dunia itu manis dan memikat.” Kesadaran akan hakikat dunia ini menjadi kunci agar hati tetap tenang dan berhenti membandingkan hidup utuh kita dengan potongan hidup orang lain yang penuh filter.
Meluruskan Niat di Tengah Riuhnya Pujian
Di akhir zaman, tantangan terbesar sering kali bukan terletak pada ketiadaan amal, melainkan pada rusaknya niat. Banyak orang berlomba berbuat baik hanya agar “terlihat” baik di mata sesama. Padahal, ketenangan sejati lahir dari kejujuran di hadapan Sang Khalik, bukan dari riuhnya pujian manusia.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap amal sangat bergantung pada niatnya. Bahkan, terdapat peringatan keras bagi mereka yang beribadah namun disertai sifat riya atau ingin dipuji, sebagaimana termaktub dalam surat Al-Ma‘un ayat 4–6. Menata niat kembali kepada Allah akan membuat beban hidup terasa jauh lebih ringan.
Membatasi Konsumsi Konten
Kelelahan jiwa masyarakat modern juga dipicu oleh konsumsi informasi yang berlebihan. Tidak semua hal yang viral harus diikuti, dan tidak semua kemewahan orang lain perlu dilihat. Menjaga pandangan dari kenikmatan orang lain adalah perintah Allah agar rasa syukur tetap terjaga.
Allah SWT berfirman:
“Janganlah engkau arahkan pandanganmu kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131).
Rasulullah SAW juga memberikan solusi praktis untuk menjaga kesehatan hati, yaitu dengan melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan duniawi. Mengurangi paparan konten yang memicu iri hati bukanlah tanda keimanan yang lemah, melainkan bentuk proteksi diri.
Menemukan Obat dalam Kesunyian
Di zaman yang serba pamer, ruang sunyi antara hamba dan Tuhannya menjadi obat yang mujarab. Ibadah yang tidak dipotret, doa yang tidak diumumkan, dan tangis di tengah malam menjadi bentuk kejujuran iman yang sangat tinggi nilainya.
Orang yang memiliki ruang sunyi bersama Allah akan lebih tangguh dan tenang menghadapi hiruk-pikuk dunia. Pada akhirnya, bahagia bukanlah sebuah perlombaan atau pengakuan publik. Bahagia adalah ketika hati merasa cukup (qana’ah).
Sejatinya, kekayaan bukanlah soal banyaknya harta, melainkan kekayaan hati. Tetap waras di akhir zaman adalah tentang menjadi individu yang paling sadar bahwa penilaian manusia bersifat fana, dan hanya penilaian Allah SWT yang abadi.

