Kabupaten Banyumas tidak hanya dikenal dengan kulinernya, tetapi juga kekayaan seni budayanya yang melimpah. Salah satu ikon yang menjadi saksi bisu sekaligus wadah kreativitas seniman lokal adalah Gedung Soetedja, yang kini bertransformasi menjadi Taman Wisata Budaya Banyumas.
Berlokasi di kawasan Pancurawis, Purwokerto Selatan, gedung ini menjadi pusat ekspresi seni bagi wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen).
Sejarah dan Penghormatan untuk Sang Komponis
Nama gedung ini diambil dari sosok legendaris R. Soetedja Purwodibroto, komponis asal Banyumas pencipta lagu ikonik “Di Tepinya Sungai Serayu”.
Diresmikan pertama kali pada 14 Maret 1970 oleh Bupati Banyumas saat itu, Soekarno Agung, gedung ini awalnya berdiri di dekat Pasar Manis. Namun, demi revitalisasi dan penyediaan fasilitas yang lebih representatif, pada tahun 2017 Gedung Soetedja resmi direlokasi ke lokasi saat ini.
Fasilitas Modern untuk Pekerja Seni
Sebagai pusat kebudayaan, Taman Wisata Budaya Banyumas kini dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang mumpuni, di antaranya:
Panggung Utama: Dilengkapi sistem suara (sound system) dan pencahayaan modern.
Ruang Kreatif: Area latihan bagi komunitas seni lokal.
Galeri Seni: Ruang pameran untuk karya visual dan instalasi budaya.
Auditorium: Ruang pertemuan untuk seminar dan diskusi kebudayaan.
Tempat ini juga rutin menjadi tuan rumah agenda besar seperti Festival Taman Budaya Soetedja, yang seringkali mempertemukan kolaborasi musisi lokal dengan skala nasional.
Menjaga Eksistensi Lengger hingga Ebeg
Taman Budaya Soetedja menjadi “rumah” bagi kesenian tradisional khas Banyumasan. Mulai dari Tari Lengger, musik Gubrak Lesung, hingga kesenian Ebeg (kuda lumping) secara rutin dipentaskan di sini.
Bukan sekadar tempat tontonan, gedung ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi melalui berbagai workshop dan kelas seni untuk memastikan generasi muda tetap mencintai warisan leluhurnya.
Harapan Seniman untuk Masa Depan
Meski telah menjadi ikon, para pegiat seni terus menyuarakan harapan agar fasilitas gedung, terutama area teater indoor, terus ditingkatkan. Renovasi pada sisi desain panggung dan kualitas akustik dinilai penting agar standar pementasan dapat terus bersaing di era modern.
Dengan segala sejarah dan aktivitas yang ada di dalamnya, Gedung Soetedja tetap berdiri kokoh sebagai simbol pelestarian budaya yang terus hidup di jantung Banyumas.

