Suasana berbeda mewarnai tasyakuran kelulusan siswa kelas IX SMP Sultan Agung Kawunganten, Kabupaten Cilacap. Di tengah maraknya perayaan kelulusan yang identik dengan corat-coret seragam dan konvoi kendaraan, sekolah ini justru menggelar prosesi bernuansa budaya Jawa yang dipadukan dengan aksi sosial berbagi seragam kepada adik kelas.
Nuansa tradisional langsung terasa sejak awal acara. Para guru tampil mengenakan beskap dan kebaya, sementara para siswa mengenakan pakaian adat Jawa seperti kebaya dan blangkon. Prosesi kelulusan juga dimeriahkan dengan kirab budaya, cucuk lampah, hingga panyandra berbahasa Jawa yang menambah kesan sakral dan khidmat.
Kepala SMP Sultan Agung Kawunganten, Gerismanto, S.Pd, mengatakan konsep tersebut sengaja dihadirkan sebagai bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus pendidikan karakter bagi siswa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa SMP Sultan Agung benar-benar menjunjung tinggi budaya Jawa. Seluruh rangkaian acara dikonsep secara Jawa penuh, mulai dari kirab, cucuk lampah, hingga panyandra berbahasa Jawa,” kata Gerismanto usai tasyakuran kelulusan, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan visi sekolah yang mengedepankan nilai nasionalis, religius, mandiri, dan berprestasi tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Seragam Tak Dicorat-coret, Disumbangkan untuk Adik Kelas

Tak hanya menghadirkan suasana budaya yang kental, perayaan kelulusan tahun ini juga diisi dengan aksi sosial. Sebanyak 133 siswa kelas IX yang dinyatakan lulus menyerahkan seragam sekolah dan perlengkapan belajar yang masih layak pakai kepada siswa kelas VII dan VIII.
Gerismanto mengungkapkan pihak sekolah sengaja mengarahkan siswa untuk merayakan kelulusan dengan cara yang lebih bermanfaat.
“Biasanya aksi merayakan kelulusan itu identik dengan corat-coret atau konvoi kendaraan. Alhamdulillah tahun ini anak-anak kami imbau untuk menunjukkan kepedulian dengan mendonasikan pakaian bekas mereka kepada adik-adik kelas. Responsnya sangat baik dan orang tua juga mendukung penuh,” ujarnya.
Selain seragam sekolah, sejumlah siswa juga menyumbangkan sepatu yang masih layak digunakan. Nantinya, bantuan tersebut akan disalurkan kepada siswa yang membutuhkan.
Salah satu lulusan, Wulan Karomah, mengaku memilih menyumbangkan seragam dan sepatunya karena masih dalam kondisi baik.
“Karena kami sudah lulus, pakaian-pakaian ini sayang kalau tidak dipakai lagi. Jadi kami bermusyawarah untuk memberikan kepada adik-adik kelas VII dan VIII,” katanya.
Menurut Wulan, tradisi corat-coret seragam tidak perlu dipertahankan. “Daripada dicorat-coret, lebih baik disumbangkan. Itu lebih berguna dan bukan budaya yang harus diteruskan,” tambahnya.
Jadi Kenangan dan Manfaat bagi Adik Kelas

Bantuan seragam tersebut disambut antusias oleh para siswa penerima. Salah satunya Dhea Nathasya, siswi kelas VIII, yang mengaku senang mendapatkan seragam peninggalan kakak kelasnya.
“Saya dapat baju batik identitas dan batik perpisahan. Senang, meski ada sedihnya juga karena kakak-kakak kelas sudah lulus. Seragam ini akan menjadi kenangan bagi kami,” ujarnya.
Menurut Dhea, seluruh pakaian yang disumbangkan masih dalam kondisi baik sehingga bisa dimanfaatkan kembali.
“Masih bagus dan layak dipakai. Jadi bisa berguna dan bermanfaat untuk adik kelas berikutnya,” katanya.
Tahun ini SMP Sultan Agung Kawunganten meluluskan seluruh siswa kelas IX sebanyak 133 orang atau 100 persen. Dengan total 432 siswa, sekolah tersebut menjadi salah satu sekolah swasta dengan jumlah peserta didik terbanyak di wilayah Kawunganten.
Melalui perpaduan antara pelestarian budaya Jawa dan aksi berbagi kepada sesama, tasyakuran kelulusan di SMP Sultan Agung Kawunganten menjadi bukti bahwa perayaan kelulusan dapat berlangsung meriah, bermakna, sekaligus memberi manfaat bagi banyak orang.

