Singkong tidak lagi sekadar menjadi bahan baku getuk atau keripik di tangan warga Desa Punggelan, Kabupaten Banjarnegara. Melalui inovasi Johan Irawan, komoditas pangan lokal ini disulap menjadi gula cair yang mulai dilirik oleh berbagai industri di Indonesia sebagai alternatif pemanis yang lebih sehat.
Dalam sebulan, Johan mampu memproduksi sekitar 3 hingga 4 ton gula singkong cair. Permintaan terus mengalir dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Lampung, Riau, hingga Kalimantan Timur.
”Pesanan paling banyak berasal dari Kalimantan Timur, terutama di Tenggarong, karena digunakan sebagai bahan baku pembuatan sirup,” ujar Johan saat ditemui di rumah produksinya, Senin, 27 April 2026.
Johan menjelaskan, proses pengolahan gula ini memanfaatkan tapioka dari singkong yang melalui dua tahap utama, yakni likuifikasi dan sakarifikasi. Hasilnya adalah pemanis dengan tingkat kemanisan hingga dua kali lipat dibanding gula pasir, namun diklaim lebih rendah kalori dan tidak mengubah aroma maupun rasa asli dari makanan atau minuman.
Berdasarkan hasil uji nilai gizi, setiap takaran saji 15 gram gula singkong ini mengandung energi total 50 kilokalori dengan karbohidrat total 12 gram (termasuk gula 6 gram). Menariknya, produk ini mengandung nol lemak dan nol protein, serta kadar natrium yang sangat rendah, yakni 4 miligram.
Perspektif Medis: Alternatif Lebih Manis, Tetap Perlu Batasan
Direktur RSI Unisula Semarang, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, menilai inovasi ini memiliki potensi besar di dunia kesehatan dan industri kuliner. Menurutnya, kandungan utama berupa fruktosa membuat penggunaan gula ini bisa lebih efisien karena rasa manisnya yang lebih tinggi.
”Secara teori, karena tingkat kemanisannya lebih tinggi, asupan gula total berpotensi ditekan jika digunakan secara bijak,” jelas dr. Agus.
Meski demikian, dr. Agus memberikan catatan penting dari sisi medis. Ia menekankan bahwa meski berbahan alami dan memiliki nilai tambah, tubuh tetap memproses produk tersebut sebagai gula. Masyarakat diingatkan untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan.
”Risikonya tetap sama jika dikonsumsi berlebih, seperti peningkatan kadar gula darah, obesitas, hingga penyakit metabolik lainnya. Prinsipnya bukan hanya pada jenis gulanya, tetapi pada jumlah konsumsi harian yang harus tetap dalam batas wajar,” tegasnya.
Inovasi dari Banjarnegara ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi pilihan bagi pelaku industri makanan dan minuman yang mulai beralih ke bahan baku yang lebih ramah kesehatan tanpa mengorbankan kualitas rasa.

