Jika Belanda memiliki Oliebollen sebagai kudapan khasnya, maka masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, memiliki Golang-Galing. Jajanan pasar satu ini bukan sekadar camilan gorengan biasa, melainkan bukti sejarah adaptasi kuliner kolonial yang masih eksis hingga kini.
Makanan sering dijumpai di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Wage, Pasar Manis, hingga area Alun-alun Banyumas. Menggunakan gerobak kaca sederhana, aroma manis-gurih dari adonan tepung yang digoreng ini selalu berhasil menggoda selera para pejalan kaki.
Jejak Kolonial di Balik Nama Golang-Galing
Nama “Golang-Galing” sendiri menyimpan cerita unik. Ada dua versi yang dipercaya masyarakat terkait asal-usul penamaannya. Pertama, berasal dari pelafalan lokal masyarakat Banyumas saat mencoba menyebut kata “Oliebollen”.
Versi kedua menyebutkan bahwa nama ini merujuk pada proses pembuatannya, di mana adonan harus dibolak-balik (diguling-guling) di dalam minyak panas agar matang merata dengan warna keemasan yang sempurna. Di beberapa sudut wilayah Banyumas, kudapan ini juga kerap disapa dengan sebutan Galundeng.
Adaptasi Rasa Lidah Banyumasan
Meski berakar dari pengaruh Belanda, Golang-Galing telah mengalami proses “Banyumasan”. Jika Oliebollen asli Belanda sering disajikan dengan isian kismis atau taburan gula halus (powdered sugar), Golang-Galing tampil lebih bersahaja.
Teksturnya khas: menul-menul, empuk namun tetap padat. Rasanya merupakan perpaduan harmonis antara manis dan gurih. Menariknya, camilan khas Banyumas cenderung memiliki ukuran yang besar dan tekstur yang lebih “mantap” atau sedikit seret, sehingga sangat cocok dinikmati bersama secangkir teh hangat atau kopi di sore hari.
Perbedaan dengan Odading dan Bolang-Baling
Sekilas, Golang-Galing memang mirip dengan Odading asal Bandung atau Bolang-Baling dari Semarang. Namun, di Banyumas, kudapan ini memiliki identitas yang kuat.
Banyak pedagang di Banyumas yang memilih untuk menjadi spesialis Golang-Galing tanpa menjual pendamping lain seperti cakwe atau donat. Hal ini membuat pembeli bisa fokus menyaksikan keahlian tangan penjual dalam mengolah adonan langsung di tempat penggorengan.
Simbol Perpaduan Budaya
Lebih dari sekadar jajanan pengganjal perut, makanan ini adalah simbol kreativitas masyarakat lokal dalam menyerap pengaruh asing. Keberadaannya yang tetap stabil di tengah gempuran camilan modern menunjukkan bahwa warisan kuliner ini memiliki tempat spesial di hati masyarakat.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Banyumas, mencicipi Golang-Galing adalah cara sederhana namun berkesan untuk menyelami sejarah kuliner daerah. Dengan harga yang terjangkau dan rasa yang memuaskan, Golang-Galing tetap menjadi ikon kuliner yang tak lekang oleh waktu.

