Upaya menumbuhkan talenta perfilman dari daerah terus dilakukan. Sejumlah pelajar dari berbagai sekolah di wilayah Banyumas Raya mengikuti pelatihan pendampingan produksi sekaligus diskusi film yang digelar di D’pillars Cilacap, Senin (20/4/2026).
Kegiatan yang digagas Yayasan Singgasana Multimedia ini menjadi ajang belajar sekaligus praktik bagi para pelajar untuk memahami proses kreatif di dunia film, mulai dari perencanaan hingga produksi.
Wadah Kreativitas Pelajar Multimedia
Ketua pelaksana kegiatan, Agung Dwijatmoko, menyebut pelatihan ini dirancang sebagai ruang pengembangan bagi pelajar yang memiliki ketertarikan di bidang multimedia dan perfilman.
“Kami ingin mengakomodir teman-teman pelajar yang bergerak di bidang multimedia atau film. Harapannya, ini bisa menjadi wadah kreativitas bagi pelajar di Banyumas Raya,” ujarnya.
Peserta kegiatan berasal dari sejumlah sekolah, di antaranya SMK Dr. Sutomo Cilacap, SMK Nusawungu, SMK Diponegoro Majenang, SMK Maarif 5 Gombong, SMK Maarif NU Ajibarang, hingga SMA Negeri 1 Banyumas.
Target Lahirkan Sineas Lokal Berkualitas
Agung menuturkan, pelatihan ini sejalan dengan misi besar mereka, yakni mencetak sineas muda yang mampu bersaing hingga tingkat nasional.
“Banyak konten kreator dari daerah, tapi belum banyak yang bisa menembus level nasional. Kami ingin dari Banyumas Raya lahir sutradara, kameramen, dan kreator film yang dikenal secara luas,” katanya.
Program ini juga mendapat dukungan fasilitasi kebudayaan dari Dana Indonesiana, meski jumlah peserta masih terbatas akibat efisiensi anggaran.
“Kami sebenarnya ingin lebih banyak sekolah terlibat. Ke depan, harapannya kegiatan ini bisa digelar lebih lama, tidak hanya sehari, tapi bisa sampai beberapa hari agar materi lebih maksimal,” tambahnya.
Materi dari Komunitas Film Banyumas Raya
Dalam pelatihan ini, panitia menghadirkan dua narasumber dari komunitas film Banyumas Raya, yakni Puput Juang dari Kedung Film Gombong dan Aziz Arifianto dari Art Film Banjarnegara.
Materi dibagi dalam dua sesi utama. Puput Juang membawakan materi penyutradaraan serta bedah skenario, sementara sesi teknis produksi disiapkan sebagai penguatan keterampilan peserta dalam proses pembuatan film.
Produksi Film Bertema Budaya Lokal
Tak hanya pelatihan, para peserta juga akan terlibat langsung dalam produksi film bersama. Tema yang diangkat adalah kebudayaan lokal, seperti Plangka, Begalan, Mitoni, Ngapati, Aqiqah, hingga Tedak Siten.
Setiap sekolah akan menggarap bagian tertentu dari rangkaian cerita yang nantinya disusun menjadi sebuah serial film budaya.
Hasil produksi tersebut rencananya akan diputar secara keliling, termasuk melalui konsep layar tancap, sekaligus menjadi ruang diskusi antar pelajar.
“Kami ingin ada jejaring antar pelajar. Mereka bisa saling belajar, evaluasi, dan membangun komunitas film sejak dini,” kata Agung.
Teknis Produksi: Kreativitas Tak Terbatas Alat
Narasumber Aziz Arifianto yang menyampaikan materi teknis menegaskan bahwa keterbatasan peralatan bukan halangan bagi pelajar untuk berkarya di dunia film.
“Saya berbagi soal tips dan trik syuting yang sederhana dan mudah dipahami, agar teman-teman pelajar bisa langsung praktik produksi,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan perangkat sederhana seperti telepon genggam tetap bisa menghasilkan karya berkualitas.
“Pakai handphone pun pasti bisa. Sekarang kualitasnya sudah bagus. Yang penting prosesnya benar, banyak belajar, dan terus berinovasi,” jelas Aziz.
Menurutnya, kreativitas justru lahir dari proses yang konsisten dan kemauan untuk terus berkembang.
Diharapkan program ini tidak berhenti di tahun ini saja. Mereka ingin kegiatan serupa terus berlanjut dengan dukungan dari pemerintah maupun berbagai pihak.

