Siapa yang tidak kenal dengan sensasi dingin menusuk alias “semriwing” dari sebutir permen putih asal Purbalingga?
Ya, Permen Davos. Permen mint legendaris ini bukan sekadar camilan pemanis mulut, melainkan saksi bisu sejarah industri manufaktur di Jawa Tengah yang mampu bertahan hampir satu abad.
Di tengah gempuran permen modern dan impor, Davos tetap kokoh berdiri, menjaga resep tradisional, dan terus menjadi primadona lintas generasi.
Berdiri Sejak Zaman Kolonial
Permen Davos pertama kali diproduksi oleh PT Slamet Langgeng yang didirikan pada 28 Desember 1931. Sosok di balik kesuksesan ini adalah Siem Kie Djian.
Perjalanan bisnisnya tidaklah instan. Perusahaan ini sempat mengalami masa sulit dan berhenti beroperasi pada masa pendudukan Jepang. Namun, berkat keteguhan dan manajemen keluarga yang apik, Davos berhasil bangkit dan terus berkembang hingga dikelola oleh generasi penerus saat ini.
Resep Tradisional yang ‘Nagih’
Satu hal yang membuat Permen Davos sulit digeser oleh kompetitor adalah konsistensi rasanya. Rahasianya terletak pada penggunaan bahan alami:
Gula Pasir Asli: Memberikan rasa manis yang pas tanpa meninggalkan bekas di tenggorokan.
Mentol: Memberikan aroma dan sensasi dingin yang kuat dan tahan lama.
Tanpa pemanis buatan dan pengawet berlebih, Davos berhasil mempertahankan cita rasa yang sama sejak pertama kali dibuat.
Dari Varian Klasik hingga Modern
Meskipun mempertahankan resep asli, Davos tidak menutup mata terhadap perkembangan zaman. Selain varian Davos Roll yang ikonik, kini tersedia pilihan lain seperti Davos Lux, Davos Mini, hingga Davos Mild untuk konsumen yang menginginkan rasa mint lebih ringan.
Ikon Wisata dan Nostalgia
Bagi warga Purbalingga, Davos adalah identitas. Bagi masyarakat Indonesia secara luas, permen ini adalah mesin waktu menuju kenangan masa kecil. Tak heran jika Davos selalu menjadi pilihan utama oleh-oleh bagi mereka yang berkunjung ke daerah perwira tersebut.
Hingga tahun 2026, Permen Davos membuktikan bahwa produk lokal dengan akar sejarah yang kuat dan kualitas yang terjaga mampu bersaing secara nasional. Davos bukan sekadar permen, ia adalah simbol ketekunan industri lokal Indonesia.

