Target produksi pangan di Kabupaten Cilacap pada 2026 dipastikan melonjak. Pemerintah menetapkan luas tambah tanam (LTT) untuk Jawa Tengah mencapai 2.388.585 hektare. Dari angka tersebut, Cilacap mendapat porsi 174.420 hektare.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan target itu meningkat signifikan dibanding 2025. Kenaikannya bahkan mencapai sekitar 32 ribu hektare.
“Untuk 2026, target Cilacap 174.420 hektare. Itu naik kurang lebih 32 ribu hektare dibanding tahun sebelumnya,” ujar Sigit, Kamis (19/2/2026).
Lonjakan target tersebut membuat sektor pertanian Cilacap harus bekerja lebih keras. Tambahan puluhan ribu hektare berarti intensitas tanam dan pengelolaan lahan harus semakin optimal agar target tidak sekadar menjadi angka di atas kertas.
Meski menjadi tantangan, Sigit menilai kenaikan ini juga membuka peluang memperkuat posisi Cilacap sebagai salah satu lumbung beras di Jawa Tengah. Pada 2025 lalu, Cilacap mencatat surplus beras sekitar 321 ribu ton.
Dengan target tanam yang lebih luas pada 2026, pemerintah daerah berharap produksi ikut terdongkrak sehingga surplus bisa tetap terjaga, bahkan meningkat.
Intervensi Benih hingga Irigasi
Untuk mengejar target LTT, sejumlah langkah strategis disiapkan. Intervensi dilakukan melalui bantuan benih, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga dukungan irigasi.
Sigit menjelaskan, dukungan tersebut bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah maupun APBN melalui Kementerian Pertanian, termasuk Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) serta direktorat teknis lainnya.
Selain itu, koordinasi dan sinkronisasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga diperkuat. Dalam waktu dekat, rapat koordinasi terkait LTT akan digelar di Solo untuk mematangkan strategi pencapaian target 2026.
Kejar Indeks Pertanaman 2,5 Kali
Salah satu kunci mencapai 174 ribu hektare adalah meningkatkan indeks pertanaman (IP). Saat ini, masih banyak lahan di Cilacap yang IP-nya di bawah dua kali tanam per tahun.
“Masih ada yang sekali tanam, ada yang dua kali. Untuk mencapai target itu minimal IP harus 2,5,” ujarnya.
Upaya yang ditempuh antara lain menambah sumber air di lahan-lahan yang selama ini hanya ditanami palawija saat musim tanam ketiga (MT3) karena kekurangan air. Dengan tambahan sumber air, lahan tersebut ditargetkan bisa ditanami padi.
Selain itu, untuk lahan dengan tingkat salinitas tinggi, petani akan diarahkan menggunakan varietas padi tahan salin agar tetap produktif.
Bentuk 22 Brigade Pangan
Langkah lain yang ditempuh adalah pembentukan 22 Brigade Pangan di Cilacap. Brigade ini dibentuk bersama Kementerian Pertanian dan berfungsi mengelola lahan-lahan yang sebelumnya kurang optimal pada MT3.
Konsepnya, lahan yang biasanya dibiarkan hanya ditanami palawija karena keterbatasan air, dikelola secara intensif agar bisa ditanami padi. Dengan begitu, luas panen dan produksi beras bisa meningkat.
Sebagai informasi, luas baku sawah (LBS) Cilacap saat ini tercatat 66.912 hektare. Dengan optimalisasi IP hingga 2,5 kali tanam dan intervensi sarana produksi, pemerintah berharap kontribusi Cilacap terhadap target Jawa Tengah bisa maksimal.
“Harapannya, swasembada pangan di Cilacap tetap terjaga, bahkan surplusnya bisa meningkat,” tandasnya.

