Kuliner tradisional bubur srintil yang selama ini identik dengan Kota Semarang kini mulai merambah Kabupaten Banjarnegara. Sajian manis-legit tersebut hadir di kawasan obyek wisata alam Desa Dawuhan, memberikan pilihan kuliner baru bagi wisatawan yang merindukan jajanan khas Jawa Tengah tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pesisir utara.
​Kehadiran bubur srintil di Dawuhan menjadi daya tarik tersendiri. Selama ini, kudapan tersebut lebih dikenal sebagai ikon kuliner Semarang yang kerap dijumpai di pasar-pasar tradisional atau menjadi menu primadona takjil saat bulan Ramadhan.
​Penjual bubur srintil di Desa Dawuhan, Slamet, menjelaskan bahwa sajian ini merupakan perpaduan harmonis dari beberapa jenis bubur dalam satu wadah. Komposisinya terdiri dari bubur candil berbahan tepung ketan yang kenyal, bubur sumsum yang lembut, serta bubur mutiara dari sagu.
​”Seluruhnya kemudian disiram kuah santan gurih dan gula aren cair, menghasilkan rasa manis yang khas dengan sentuhan gurih,” ujar Slamet saat ditemui di lokasi wisata, Ahad (29/3/2026).

​Menurut Slamet, kekuatan utama bubur ini terletak pada keberagaman teksturnya. Perpaduan antara kelembutan bubur sumsum dengan kekenyalan candil memberikan sensasi berlapis yang lebih “lengkap” dibandingkan bubur candil pada umumnya.
​Kuliner ini diperkenalkan sebagai bagian dari pengembangan potensi wisata lokal di Pasar Rengrang, yang merupakan bagian dari kompleks obyek wisata alam Desa Dawuhan. Pasar ini telah beroperasi sejak tahun 2017 dan secara konsisten hanya buka setiap hari Ahad.
​”Kami ingin menghadirkan ragam kuliner tradisional di tengah destinasi wisata alam. Ternyata respons pengunjung sangat positif karena keunikan dan rasa khas yang ditawarkan,” tambahnya.
​Sementara itu, aktivis Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dawuhan, Supri, menyatakan bahwa langkah menghadirkan kuliner khas daerah lain merupakan strategi untuk memperkaya daya tarik wisata. Ia berharap keberagaman menu ini dapat meningkatkan angka kunjungan sekaligus melestarikan warisan rasa lintas wilayah.
​”Kehadiran bubur srintil di Banjarnegara menjadi penanda bahwa kuliner tradisional terus beradaptasi. Warisan rasa ini terbukti bisa melintasi batas wilayah dan tetap diminati oleh lintas generasi,” pungkas Supri.






