Ada yang unik pada peringatan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banjarnegara tahun 2026 ini. Pemerintah Kabupaten setempat resmi meluncurkan logo identitas visual yang menjadikan kuliner legendaris, Dawet Ayu, sebagai simbol utama perjalanan sejarah daerah tersebut.
Logo dengan tema “Berkah, Maju, dan Sejahtera” ini tampil lebih modern namun tetap kental dengan unsur lokal. Jika dilihat sekilas, logo tersebut membentuk angka “455”, namun susunannya secara cerdas dirancang menyerupai rombong atau keranjang pikulan dawet ayu yang sudah mendunia.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara, Tursiman S.Sos, mengungkapkan bahwa pemilihan ikon ini bukan tanpa alasan. Dawet ayu dianggap sebagai representasi paling kuat dari ekonomi kerakyatan dan kesederhanaan masyarakat Banjarnegara.
”Logo ini adalah representasi perjalanan sejarah dari tahun 1571 hingga 2026. Angka 455 yang membentuk keranjang dawet melambangkan bahwa kekuatan utama Banjarnegara ada pada ekonomi kerakyatan, kebersamaan, dan kesederhanaan,” ujar Tursiman, Jumat (20/2/2026).
Makna Filosofis Warna
Berbeda dengan desain tahun-tahun sebelumnya yang cenderung konservatif, logo kali ini bermain dengan gradasi warna yang lebih berani:
Biru Gradasi: Melambangkan ketenangan dan air sebagai nadi kehidupan pertanian.
Hijau Cerah: Merepresentasikan butiran cendol, simbol kesuburan alam.
Oranye Keemasan: Memancarkan optimisme dan energi kreatif warga.
Magenta: Menandakan suasana sukacita dalam merayakan usia daerah yang hampir setengah milenium.
Garis-garis dinamis dalam desain juga menegaskan bahwa meski sudah berusia 455 tahun, Banjarnegara tetap adaptif dan progresif mengikuti perkembangan zaman.
Panduan Penggunaan
Untuk menjaga konsistensi, Pemkab Banjarnegara merilis dua konfigurasi logo, yakni format horizontal untuk keperluan administrasi seperti kop surat, dan format vertikal yang lebih fleksibel untuk media sosial.
”Peringatan ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan saja. Melalui simbol dawet ayu, pemerintah ingin menegaskan bahwa kekuatan daerah bertumpu pada kearifan lokal,” pungkasnya.

