Berbicara tentang kuliner Purwokerto, pikiran banyak orang pasti langsung tertuju pada mendoan yang hangat dan lembut.
Namun, di sudut kota ini, terdapat sebuah nama yang telah menjadi legenda hidup dalam dunia camilan renyah selama lebih dari setengah abad.
Keripik Niti, sebuah jenama yang tidak hanya sekadar menjual keripik tempe, tetapi juga menjaga warisan rasa yang telah bertahan lintas generasi sejak tahun 1967.
Sebagai pelopor keripik tempe di wilayah Banyumas, Keripik Niti tetap menjadi primadona bagi wisatawan maupun warga lokal di tengah gempuran camilan modern. Kesetiaan pelanggan terhadap cita rasa tradisionalnya membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi setiap harinya.
Warisan Mbah Marniti: Eksis Melintasi Tiga Generasi
Melansir unggahan TikTok Camat Purwokerto Selatan, Oka Yudhistira Pangestu (@okayudhis), sejarah panjang Keripik Niti bermula dari tangan dingin Mbah Marniti.
Pada tahun 1965-an, beliau mulai merintis usaha keripik tempe ini dengan resep bumbu rahasia yang autentik. Dan, mulai tahun 1967, Keripik Niti terkenal di wilayah Kelurahan Purwokerto Kidul dan sekitarnya.
Nama “Niti” sendiri diambil dari bagian nama sang nenek, sebagai bentuk penghormatan sekaligus identitas produk.
Dahulu, Marniti atau yang akrab disapa “Mbah Niti” berjualan keliling dengan membawa rinjing sebelum menempatinya tempat sekarang.

Sang Pelopor sendiri meninggal dunia pada 2013 lalu dalam usia kurang lebih mencapai 105 tahun. Ketika usia Mba Niti sudah senja, usaha tersebut dilanjutkan oleh anaknya, yakni Ahmad Muntasir.
Akan tetapi, setelah Ahmad Muntasir meninggal pada 2002 lalu, bisnis keluarga ini dikelola oleh generasi ketiga bernama Pungguh Jatmiko. Sebelumnya,
Meskipun tongkat estafet kepemimpinan telah berpindah, prinsip kualitas yang diwariskan oleh Mbah Marniti tetap dijaga ketat.
Tak heran jika tekstur renyah dan rasa gurih rempahnya tidak pernah berubah sejak dahulu kala. Hal inilah yang membuat Keripik Niti menyandang gelar sebagai salah satu pelopor industri keripik tempe di Purwokerto.
Rahasia Dapur: Teknik Penggorengan Dua Kali
Apa yang membuat Keripik Niti berbeda dari keripik tempe lainnya? Jawabannya terletak pada proses produksi yang detail dan dedikasi terhadap kualitas bahan baku.
Setiap harinya jika stok belum mencukupi, rumah produksi ini mengolah sekitar 3.400 bungkus tempe mentah untuk menghasilkan kurang lebih 900 bungkus keripik tempe matang.
Salah satu kunci kelezatannya adalah penggunaan minyak goreng dari kelapa yang selalu terjaga kualitasnya.

Proses penggorengannya pun dilakukan sebanyak dua kali. Pertama, tempe digoreng menjadi mendoan setengah matang. Setelah ditiriskan, tempe kemudian digoreng kembali di wajan berbeda hingga benar-benar kering dan memiliki tekstur yang sangat renyah.
Dengan dukungan 18 karyawan, setiap keping keripik dipastikan memiliki standar ketebalan dan kematangan yang pas.
Harga Terjangkau dan Lokasi Strategis
Bagi Anda yang ingin mencicipi kegurihan keripik legendaris ini, harganya tergolong sangat ramah di kantong. Satu bungkus Keripik Niti dibanderol dengan harga Rp30.000 yang berisi 20 biji.
Dengan kemasan yang rapi dan tahan lama, keripik ini menjadi pilihan favorit untuk oleh-oleh ke luar kota.
Menemukan lokasi tokonya pun sangat mudah. Keripik Niti terletak di area yang strategis dan mudah dijangkau dari pusat kota. Berikut adalah detail lokasinya:
- Alamat: Jl. Pramuka No.221a, Pertabatan, Purwokerto Kidul, Kec. Purwokerto Sel., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53147.
- Patokan: Hanya berjarak sekitar 200 meter dari RS Bunda Purwokerto.
- Jam Operasional: Buka setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
Simbol Ketahanan Kuliner Lokal
Keberlangsungan Keripik Niti selama lebih dari 50 tahun membuktikan bahwa kualitas dan konsistensi adalah kunci dalam bisnis kuliner.
Di tengah banyaknya variasi oleh-oleh kekinian, Keripik Niti tetap teguh berdiri sebagai ikon Kuliner Purwokerto.
Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Satria, belum lengkap rasanya jika tidak membawa pulang sebungkus keripik legendaris ini.
Rasa gurihnya yang khas bukan sekadar bumbu, melainkan hasil dari sejarah panjang dan kerja keras keluarga besar Mbah Marniti dalam menjaga identitas rasa asli Banyumas.
***

