Persaudaraan sejatinya merupakan anugerah terindah yang menghiasi hidup manusia. Namun, realitasnya banyak ikatan suci ini yang kandas di tengah jalan. Hancurnya persaudaraan tidak selalu bermula dari pertengkaran hebat, melainkan akibat penyakit hati dan ambisi duniawi yang dibiarkan tumbuh subur tanpa disadari.
Dalam Islam, Allah SWT menegaskan bahwa ikatan iman bukan sekadar hubungan sosial, melainkan ikatan ruhani yang suci. Hal ini termaktub dalam QS Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” Ayat ini merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.
Setidaknya, terdapat tujuh penyebab utama yang sering meretakkan persaudaraan akibat silau harta dunia:
1. Cinta Dunia yang Berlebihan
Sebab pertama adalah menjadikan dunia sebagai tujuan utama, bukan sarana. Ketika dunia menjadi target, manusia mulai mengukur hubungan berdasarkan untung-rugi. Persaudaraan yang tulus karena Allah berubah menjadi relasi rapuh yang mudah goyah saat kepentingan bersinggungan. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa dunia yang dilapangkan bisa menjadi ujian kelalaian terbesar bagi umat.
2. Penyakit Hasad dan Iri Hati
Hasad sering muncul saat seorang saudara mendapat kelebihan harta, kedudukan, atau pengaruh. Alih-alih bersyukur, hati justru merasa sempit. Rasulullah SAW menyebut hasad sebagai api yang melahap kebaikan. Jika tidak diobati dengan doa kebaikan bagi saudara tersebut, kehangatan persaudaraan akan mendingin dan menjadi asing.
3. Lisan yang Tidak Terjaga
Dalam urusan dunia, seseorang sering merasa perlu membela diri atau mempertahankan pendapat hingga mengeluarkan kata-kata tanpa pertimbangan. Satu kalimat yang melukai perasaan bisa meninggalkan bekas lebih lama daripada luka fisik. Menjaga perasaan saudara sering kali lebih mulia daripada memenangkan sebuah perdebatan.
4. Ghibah dan Prasangka Buruk
Kepentingan duniawi kerap mendorong seseorang menilai niat orang lain dengan kacamata curiga. Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain sering kali dibungkus dengan alasan klarifikasi. Allah mengibaratkan perilaku ini seperti memakan bangkai saudara sendiri. Ketika kepercayaan runtuh akibat prasangka, maka runtuh pula pondasi persaudaraan.
5. Kesombongan atas Pencapaian Duniawi
Saat meraih keberhasilan, ada kalanya seseorang merasa tidak lagi sejajar dengan saudaranya. Kesombongan tidak selalu berupa penghinaan terang-terangan, tapi bisa berupa sikap enggan menghargai atau merasa tidak perlu lagi mendengar masukan. Padahal, semua kelebihan hanyalah titipan yang seharusnya tidak membuat jarak antar sesama.
6. Ketidaksabaran Menghadapi Perbedaan
Dunia sering mendorong manusia untuk seragam. Namun, tidak semua saudara ditakdirkan berjalan di jalur yang sama. Banyak hubungan yang sebenarnya bisa diselamatkan jika masing-masing pihak mau menahan amarah dan memilih untuk mengalah demi menjaga cinta karena Allah.
7. Melupakan Kehidupan Akhirat
Sebab yang paling mendasar adalah lupa bahwa dunia hanya sementara. Ketika akhirat menjauh dari kesadaran, urusan dunia terasa sangat prinsipil. Manusia sering menunda untuk memaafkan dan berdamai seolah waktu di dunia masih panjang, padahal yang akan ditanya di akhirat kelak adalah akhlak dan bagaimana kita memperlakukan sesama.
Sebagai penutup, persaudaraan karena Allah adalah nikmat yang mahal. Dunia boleh dimiliki, namun jangan sampai menguasai hati hingga merusak hubungan yang telah lama terbina. Muhasabah diri menjadi kunci agar hati tetap lapang dan persaudaraan tetap terjaga hingga kelak dikumpulkan kembali di bawah naungan rahmat-Nya.

