SETIAP daerah memiliki kuliner ataupun minuman khas, begitu juga dengan minuman Tradisional Dawet Ayu telah lama dikenal sebagai ikon kuliner Kabupaten Banjarnegara. Kesegarannya bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang tradisi yang dijaga turun-temurun. Di balik itu semua, ada perajin yang bekerja dalam senyap.
- Menjaga Warisan Dawet Ayu Hingga Lebih dari 20 Tahun
- Produksi Manual, Setiap Detail Punya Makna
- Centhong Batok dan Kendi Tanah Liat, Rahasia Rasa Tetap Asli
- Kuat, Sederhana, dan Bisa Dipakai Bertahun-tahun
- Pesanan Datang dari Jawa hingga Papua
- Dukungan Paguyuban dan Harapan untuk Pemerintah
- Dawet Ayu, Warisan Juara yang Wajib Dijaga
Dari sebuah bengkel rumahan milik Mukodas, di Dusun Wanatangi, Kelurahan Argasoka, Banjarnegara, dia memproduksi perlengkapan dagang Dawet Ayu yang otentik. Dari tempat sederhana inilah, rombong dan peralatan dawet dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga Papua.
Menjaga Warisan Dawet Ayu Hingga Lebih dari 20 Tahun
Mukodas telah menekuni usaha ini selama lebih dari dua dekade. Bersama sang istri, ia membangun Rumah Peralatan Dawet Ayu Banjarnegara, yang kini dikenal sebagai rujukan utama para pedagang minuman tradisional khas Banjarnegara ini.
Beragam perlengkapan diproduksi di sini, mulai dari rombong dawet, gerobak ukir khas, centhong, hingga aksesori pendukung lainnya. Semua dibuat dengan tangan, menjaga ciri khas dari minuman tradisional Banjarnegara agar tak tergerus zaman.
Produksi Manual, Setiap Detail Punya Makna
Dalam keseharian, Mukodas dibantu dua orang tukang. Dengan teknik manual, masing-masing mampu membuat lebih dari satu pasang rombong dawet per hari.
Setiap ornamen memiliki filosofi. Tokoh wayang Semar dan Gareng melambangkan musim mareng (kemarau), doa agar dagangan laris saat cuaca panas. Bendera hijau mencerminkan kesegaran daun pandan sekaligus harapan keberkahan bagi penjual dan pembeli.
Rombong Dawet Ayu bukan sekadar alat jualan, tetapi medium cerita dan nilai lokal. Untuk itu, tidak sembarang orang untuk dapat membat rombang sesuai dengan folosofi yang terkandung di dalamnya.
Centhong Batok dan Kendi Tanah Liat, Rahasia Rasa Tetap Asli
Keaslian minuman tradisional khas Banjarnegara ini juga dijaga lewat bahan tradisional. Centhong batok kelapa dan kendi tanah liat dipilih bukan tanpa alasan.
Material alami ini mampu menjaga aroma dan kestabilan suhu gula merah, sehingga rasa Dawet Ayu tetap segar dan autentik. Perpaduan alat tradisional ini memperkuat identitas Dawet Ayu sebagai warisan budaya yang hidup.
Kuat, Sederhana, dan Bisa Dipakai Bertahun-tahun
Dari segi ketahanan, perlengkapan buatan Mukodas dikenal tangguh. Dengan perawatan baik, alat-alat tersebut bisa digunakan 3 hingga 5 tahun untuk pemakaian rutin.
“Alat tradisional ini melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan keharmonisan manusia dengan alam,” ujar Mukodas.
Soal harga, produk ini tergolong terjangkau. Sepasang rombong dawet dibanderol sekitar Rp600 ribu, sementara paket lengkap dengan gerobak dijual sekitar Rp2,2 juta.
Pesanan Datang dari Jawa hingga Papua
Keaslian dan kualitas membuat produk Mukodas diminati secara nasional. Pesanan datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa hingga Papua. Di era digital, mayoritas pembeli memesan secara online demi memastikan produk benar-benar asli dari Banjarnegara.
Meski peminat sudah merambah luar negeri, Mukodas masih berhitung soal ekspor.
“Pengiriman ke Papua saja bisa dua minggu sampai sebulan. Tantangannya menjaga barang tetap aman sampai tujuan,” katanya.
Dukungan Paguyuban dan Harapan untuk Pemerintah
Perkembangan usaha Mukodas mendapat perhatian dari Lurah Argasoka sekaligus Sekretaris I Paguyuban Dawet Ayu Banjarnegara, Fajar Maskuri. Ia aktif memberi arahan agar perlengkapan Dawet Ayu asli Argasoka semakin kuat bersaing di pasar digital.
“Keaslian adalah alasan utama pembeli. Mereka mencari peralatan yang benar-benar asli Banjarnegara,” ujarnya.
Mukodas dan para perajin berharap dukungan pemerintah, khususnya dalam penyediaan alat produksi modern yang tetap menjaga nilai tradisional, agar produktivitas meningkat tanpa kehilangan jati diri.
Dawet Ayu, Warisan Juara yang Wajib Dijaga
Harapan tersebut semakin bermakna karena Dawet Ayu Banjarnegara pernah dinobatkan sebagai Minuman Tradisional Terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.
Prestasi ini menegaskan bahwa Dawet Ayu bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan identitas budaya Banjarnegara yang layak dirawat lintas generasi.

