Kebersihan adalah sebagian dari iman. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Bakhir (49), pria asal Desa Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Sejak usia remaja hingga kini menginjak kepala empat, ia setia mengabdikan diri merawat Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Bagi warga sekitar, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq bukan sekadar tempat ibadah megah di wilayah Purwareja Klampok. Masjid ini dikenal karena kenyamanannya yang luar biasa. Lantai yang mengkilap dan karpet yang tertata rapi membuat jamaah betah berlama-lama bersujud.
PENGABDIAN SEJAK MUDA
Di balik kemegahan itu, ada tangan dingin Bakhir yang bekerja dalam senyap. Setiap hari, warga Dusun Purwasari ini sudah sibuk menyapu halaman luas hingga mengepel tiap sudut lantai masjid.
”Sejak muda saya sudah terbiasa membantu di sini. Mulai dari menyapu, mengepel, sampai merapikan alat salat. Tujuannya cuma satu, supaya jamaah nyaman dan khusyuk,” ujar Bakhir saat ditemui, Jumat (6/3/2026).

JADI MUADZIN
Tak hanya mahir memegang sapu dan alat pel, Bakhir juga memiliki suara yang merdu saat mengumandangkan adzan. Baginya, menjadi penanda waktu salat bagi warga adalah kebahagiaan tersendiri.
Meski pekerjaannya terlihat sederhana, Bakhir mengaku tidak pernah merasa lelah. Baginya, menjaga kebersihan masjid adalah bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.
”Ini bukan sekadar kerjaan buat saya, tapi pengabdian. Kalau masjid bersih, jamaah tenang, ibadah pun jadi lebih mantap,” ungkapnya tulus.
Kisah Bakhir menjadi bukti bahwa pengabdian tulus tidak melulu soal jabatan tinggi, melainkan tentang konsistensi menjaga rumah ibadah agar tetap suci dan nyaman bagi sesama.

