Desa Pekunden di Kecamatan Banyumas kini tidak hanya dikenal sebagai desa biasa, namun telah bertransformasi menjadi Kampung Nopia Mino, sebuah destinasi edutourism (wisata edukasi) unggulan yang menawarkan pengalaman unik bagi para pelancong.
Berlokasi di Pekunden Lor, kampung ini menjadi sentra produksi camilan khas Banyumas, yaitu nopia dan mino, yang hingga kini masih mempertahankan teknik produksi tradisional menggunakan tungku tanah liat.
Nopia Mino Warisan Kuliner yang Tetap Eksis di Tengah Modernisasi
Daya tarik utama Kampung Nopia Mino terletak pada konsistensi warganya dalam menjaga warisan leluhur. Hampir seluruh warga di kampung ini terlibat dalam rantai produksi, mulai dari peracikan adonan hingga pengemasan.
Saat memasuki kawasan kampung, pengunjung akan disambut dengan aroma manis gula jawa dan aroma khas panggangan kayu bakar yang memenuhi udara. Suasana autentik inilah yang menjadikan Kampung Nopia Mino kerap disambangi pelajar, komunitas kuliner, hingga wisatawan mancanegara.
Mengenal Nopia dan Mino: Si “Telur Gajah” dari Banyumas
Bagi yang belum familiar, Nopia adalah makanan berbahan dasar tepung terigu dengan isian gula merah atau gula jawa.
Bentuk Unik: Adonan dibentuk bulat lonjong menyerupai telur.
Teknik Panggang: Keunikannya terletak pada cara memasak, di mana adonan ditempelkan langsung pada dinding bagian dalam tungku tanah liat yang panas.
Varian Rasa: Meski klasik dengan gula merah, kini tersedia varian rasa modern seperti cokelat, pandan, hingga durian.
Sementara itu, Mino atau “Nopia Mini” adalah versi ukuran kecil yang lebih praktis sebagai camilan ringan. Meski ukurannya berbeda, bahan dan teknik pengerjaannya tetap sama persis dengan nopia.
Konsep Edutourism: Belajar Menempel Adonan di Tungku
Sebagai destinasi edukasi, Kampung Nopia Mino memberikan akses bagi wisatawan untuk melihat langsung dapur produksi. Pengunjung dapat menyaksikan keterampilan khusus para perajin saat menempelkan adonan ke dinding tungku yang membara.

Teknik ini membutuhkan ketangkasan dan insting yang tajam, karena jika salah menempel atau suhu tungku tidak stabil, kualitas nopia akan menurun. Pengetahuan berharga inilah yang ditawarkan kepada para siswa atau wisatawan yang melakukan outing class di sini.
Dampak Ekonomi dan Pelestarian Budaya
Transformasi menjadi kampung wisata ini berdampak positif bagi ekonomi warga Desa Pekunden. Selain penjualan produk yang merambah platform digital, kunjungan wisatawan meningkatkan pendapatan jasa edukasi dan UMKM setempat.
Dengan perpaduan produksi kuliner dan wisata, Kampung Nopia Mino tidak hanya menjaga kelestarian rasa, tetapi juga memastikan pengetahuan sejarah dan filosofi kuliner tradisional Banyumas tetap terjaga oleh generasi mendatang.
Bagi Anda yang sedang berada di Kabupaten Banyumas, Kampung Nopia Mino di Desa Pekunden adalah destinasi yang wajib dikunjungi untuk merasakan sensasi wisata kuliner yang sarat akan nilai budaya.

