Klenteng Boen Tek Bio Banyumas menjadi salah satu simbol kuat akulturasi budaya di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Tri Dharma, klenteng ini dikenal luas karena keberadaan Altar Mbah Kuntjung yang merepresentasikan perpaduan tradisi Tionghoa dan budaya Jawa dalam satu ruang sakral.
Keunikan tersebut menjadikan klenteng ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan juga penanda sejarah panjang interaksi masyarakat Tionghoa dan pribumi Banyumas sejak masa kolonial.
Berawal dari Chinese School di Era Kolonial
Melansir akun Instagram @okayudhis, Juru Bicara Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas, Sobitananda menjelaskan bahwa lokasi klenteng ini pada zaman kolonial Belanda pernah menjadi Chinese School atau Chinese Holland School.
Pada masa itu, Ong King Swiss sebagai pemilik aset tanah bersama Tiong Ah Hue yang menjabat sebagai Kapitan Chinese Holland atau Kongxi memiliki visi yang sama untuk mendirikan bangunan permanen. Bangunan tersebut dirancang sebagai pusat kegiatan pendidikan, sosial budaya, sosial ekonomi, hingga sosial kemanusiaan bagi komunitas setempat.
Seiring perkembangan waktu, pada tahun 1826 bangunan tersebut kemudian difungsikan sebagai kelenteng.
Hingga kini, Klenteng Boen Tek Bio Banyumas tetap mempertahankan fungsi multifungsinya, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang kegiatan sosial dan budaya masyarakat.
Klenteng Boen Tek Bio Banyumas Akulturasi Budaya
Sobitananda menegaskan bahwa Klenteng Boen Tek Bio Banyumas diakui sebagai klenteng akulturasi budaya. Salah satu buktinya adalah adanya leluhur yang dipuja bukan hanya berasal dari Tiongkok, melainkan juga leluhur asli Banyumas yang dikenal dengan sebutan Mbah Kuntjung.
Keberadaan Altar Mbah Kuntjung menjadi simbol nyata bagaimana budaya Tionghoa dan Jawa berbaur tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Di tengah dominasi arsitektur khas Tionghoa dengan warna merah, emas, serta ornamen naga, altar tersebut menghadirkan sentuhan budaya Kejawen yang kental.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa proses asimilasi dan akulturasi telah berlangsung secara alami sejak ratusan tahun lalu. Klenteng bukan hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang budaya.
Memiliki 18 Altar dan Puluhan Rupang
Secara keseluruhan, kelenteng ini memiliki 18 altar dengan sekitar 24 hingga 25 rupang atau patung dewa dan leluhur.
Setiap altar memiliki fungsi dan makna tersendiri sesuai dengan ajaran dan tradisi yang dianut umat Tri Dharma.
Namun, yang membedakan Altar Mbah Kuntjung dari altar lainnya adalah tidak adanya rupang. Sebagai gantinya, terdapat tiga bilah keris yang menjadi representasi budaya Kejawen.
Keris tersebut menjadi simbol penghormatan kepada leluhur lokal dan memperkuat identitas akulturasi yang melekat pada klenteng ini.
Keberadaan tiga bilah keris di altar tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap leluhur tidak selalu diwujudkan dalam bentuk patung, tetapi bisa melalui simbol budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Daya Tarik Religi dan Budaya Banyumas
Selain nilai sejarahnya, Klenteng Boen Tek Bio Banyumas juga menjadi destinasi wisata religi dan budaya. Pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh, klenteng ini ramai dikunjungi masyarakat lintas etnis.
Atraksi barongsai, doa bersama, dan kegiatan sosial menjadi bagian dari tradisi yang mempererat hubungan antarwarga.
Keberadaan Altar Mbah Kuntjung pun sering menjadi sorotan karena dianggap sebagai wujud toleransi yang konkret. Banyumas menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Warisan Budaya yang Patut Dijaga
Klenteng Boen Tek Bio Banyumas bukan hanya bangunan bersejarah yang berdiri sejak 1826, tetapi juga simbol hidup akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Dari bekas Chinese School di era kolonial hingga menjadi kelenteng multifungsi, tempat ini menyimpan jejak perjalanan sosial yang panjang.
Dengan 18 altar, puluhan rupang, serta Altar Mbah Kuntjung yang diwakili tiga bilah keris, klenteng ini menegaskan bahwa harmoni dapat tumbuh dari perbedaan.
Di tengah dinamika masyarakat modern, nilai toleransi dan kebersamaan yang terpatri di Klenteng Boen Tek Bio Banyumas menjadi warisan budaya yang patut dijaga dan dirawat bersama.
***

