Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas mencatat Kota Purwokerto mengalami inflasi sebesar 0,78 persen secara month to month pada Februari 2026. Angka ini menunjukkan perubahan tren ekonomi di Purwokerto yang sebelumnya sempat mengalami deflasi pada bulan Januari.
Kepala BPS Kabupaten Banyumas, Fatichuddin, membedah dinamika tersebut dalam agenda High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Smartroom Purwokerto, Selasa (10/03/2026). Ia merinci bahwa terdapat tiga komoditas utama yang mendongkrak angka inflasi, yakni daging ayam ras, cabai rawit, serta emas perhiasan.
Daging ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,14 persen, disusul cabai rawit sebesar 0,13 persen, dan emas perhiasan sebesar 0,11 persen. Lonjakan ini juga dipicu oleh permintaan pada kelompok makanan dan tembakau yang mencapai titik tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Di sisi lain, beberapa sektor justru menyumbang deflasi atau penurunan harga, di antaranya adalah bensin, wortel, serta bawang putih.
Fatichuddin menjelaskan bahwa peningkatan angka inflasi ini tidak lepas dari pertemuan dua momen besar yang memicu konsumsi masyarakat secara signifikan. Peningkatan permintaan terjadi akibat libur bersama Tahun Baru Imlek pada minggu kedua Februari serta masuknya awal Ramadan pada minggu ketiga Februari.
Selain faktor permintaan, kendala dari sisi suplai juga turut memperkeruh situasi. Curah hujan yang tinggi diketahui menghambat produksi hortikultura. Kondisi ini diperparah dengan belum tibanya masa panen raya yang mengakibatkan harga beras di tingkat pedagang mulai merangkak naik.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, yang memimpin langsung rapat koordinasi menekankan bahwa stabilitas keamanan dan ketahanan pangan adalah prioritas utama. Hal ini krusial untuk menjaga kondusifitas daerah menjelang hingga sesudah Lebaran.
”Mengingat kondisi global yang saat ini tidak stabil, seluruh jajaran pemangku kepentingan diharapkan meningkatkan kewaspadaan,” ujar Lintarti.
Ia juga menambahkan pentingnya deteksi dini terhadap setiap hambatan distribusi maupun stok pangan di lapangan. Setiap sektor diharapkan mampu mengidentifikasi potensi kendala secara dini dan memastikan koordinasi lintas sektor berjalan optimal untuk menghadapi situasi ekonomi global yang fluktuatif.

