Di depan Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, sebuah Mobil tua sederhana kerap dipadati pembeli sejak pagi hari. Asap tipis dari bara arang menjadi penanda kehadiran roti bakar legendaris milik Pak Markus, pedagang kuliner yang setia mempertahankan cara tradisional di tengah gempuran makanan modern.
Pak Markus mengaku sudah lama berjualan roti bakar di Purwokerto, dan sekitar empat bulan terakhir mencoba peruntungan di Purbalingga. Ia membuka lapak setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, atau sampai dagangan habis.
“Saya sengaja buka pagi karena banyak yang beli buat sarapan. Biasanya jam segitu sudah mulai ramai,” ujar Pak Markus saat ditemui Rabu, 4 Februari 2026.
Keunikan roti bakar Pak Markus terletak pada proses pembuatannya yang masih menggunakan arang. Menurutnya, metode ini bukan sekadar kebiasaan lama, tetapi berpengaruh langsung pada rasa.
“Kalau pakai arang itu aromanya beda. Rotinya lebih wangi, lebih kering di luar tapi tetap empuk di dalam. Itu yang bikin pembeli balik lagi,” tuturnya.

Dengan harga Rp5.000 per porsi, Pak Markus menawarkan beberapa varian rasa, seperti cokelat, keju, kacang, dan yang paling diminati adalah selai nanas buatan sendiri.
“Selai nanas saya bikin sendiri di rumah. Tidak pakai pengawet, jadi rasanya segar dan alami. Banyak pelanggan justru cari yang nanas,” jelasnya sambil tersenyum.
Dalam wawancara tersebut, Pak Markus juga mengungkapkan bahwa latar belakang usahanya sebenarnya bukan di bidang kuliner. Ia sempat menekuni servis audio, namun kondisi memaksanya untuk beralih.
“Awalnya saya servis audio, tapi karena keadaan tidak menentu, akhirnya fokus jualan roti bakar. Saya sudah ikut mertua jualan sejak tahun 1996, jadi sebenarnya sudah paham betul,” ungkapnya.
Kini, Pak Markus fokus berjualan roti bakar dan menjadi cara produktif untuk mengisi waktu senggang sekaligus menjaga warisan keterampilan keluarga. Setiap hari, Pak Markus membawa 10-15 bungkus roti, dengan isi 7 porsi per bungkus. Dalam satu hari, penjualan bisa mencapai 50 hingga 100 porsi, tergantung cuaca dan keramaian.
“Alhamdulillah, rata-rata habis. Yang penting saya jaga rasa dan kebersihan, biar pembeli percaya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses pembuatan dilakukan secara bersih dan higienis, mulai dari bahan hingga penyajian.
Dengan rasa klasik, harga merakyat, dan cerita panjang di baliknya, roti bakar Pak Markus bukan sekadar jajanan, melainkan potret ketekunan dan adaptasi seorang pedagang kecil dalam menghadapi perubahan zaman.
Bagi warga Purbalingga dan sekitarnya, roti bakar legendaris Pak Markus layak menjadi rekomendasi kuliner wajib coba.

