Upaya pencarian terhadap Raihan, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah, Desa Rakit, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara yang hanyut di Sungai Serayu belum membuahkan hasil. Memasuki hari kedua pencarian pada Sabtu (23/5/2026), Tim SAR gabungan terpaksa memperluas area penyisiran hingga memasuki wilayah Kabupaten Banyumas.
Kasi Darlog BPBD Banjarnegara, Raib, menjelaskan bahwa derasnya arus sungai menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh petugas di lapangan.
“Hari ini masih terus dilakukan pencarian bahkan sampai wilayah Banyumas. Arus sungai yang deras menjadikan tim SAR harus ekstra hati-hati,” ujar Raib kepada wartawan, Sabtu (23/5/2026).
Sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) SAR, proses pencarian pada hari kedua ini akan dihentikan sementara pada pukul 17.00 WIB. Jika korban belum juga ditemukan, operasi penyelamatan akan kembali dilanjutkan esok pagi.
Kronologi Kejadian: Berawal dari Cuci Baju
Peristiwa nahas ini bermula pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 12.30 WIB, tepatnya seusai para santri menunaikan ibadah salat Jumat. Berdasarkan informasi, korban bersama sekitar 10 rekannya awalnya berniat mencuci pakaian di tempat pemandian umum khusus santri.
Namun, salah seorang santri kemudian mengajak rombongan untuk bermain di kawasan Kedung Putri, aliran Sungai Serayu yang berada di wilayah Desa Rakit RT 003 RW 004.
Saat bermain di sungai, korban diduga mencoba berjalan menuju bagian tengah sungai sambil saling berpegangan tangan dengan teman-temannya. Nahas, karena arus yang sangat deras dan kedalaman sungai yang tidak terduga, korban kehilangan pijakan. Genggaman tangan korban terlepas dari rekan-rekannya.
Rekan-rekan korban sempat berupaya memberikan pertolongan darurat, namun tubuh Raihan dengan cepat terseret arus dan hilang dari pandangan.
Larangan Keras Pihak Pesantren
Sementara itu, perwakilan pengurus Ponpes Darul Falah, Aziz Nawawi, menegaskan bahwa aksi para santri tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi di luar pengetahuan pihak pengurus.
Aziz mengungkapkan, pihak pesantren sebenarnya telah memberlakukan larangan keras bagi seluruh santri untuk bermain maupun mandi di Sungai Serayu. Aturan ketat ini berkaca pada insiden serupa yang pernah terjadi pada tahun 2012 silam, di mana seorang santri juga hanyut dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tiga hari pencarian.
“Kami sebelumnya sudah memberikan edukasi dan larangan keras kepada para santri agar tidak bermain di Sungai Serayu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin mendidik dan menjaga para santri. Namun kejadian ini di luar dugaan,” kata Aziz.
Meski demikian, pihak Ponpes menyatakan bertanggung jawab penuh dan ikut menerjunkan sejumlah pengurus untuk mem-back up Tim SAR di lapangan.
”Kami memohon doa kepada masyarakat agar santri kami segera dapat ditemukan,” tuturnya.
Hingga berita ini diturunkan, Tim SAR gabungan masih terus mengupayakan berbagai metode pencarian, mulai dari penyisiran menggunakan perahu karet, pemantauan visual di sepanjang pinggiran sungai, hingga melakukan penyelaman di titik awal (LKP) korban diduga tenggelam.

