Di tengah denyut aktivitas kota, Masjid Agung Darussalam Cilacap berdiri kokoh sebagai salah satu ikon religi dan sejarah di Kabupaten Cilacap.
Bangunan yang telah berusia lebih dari dua abad ini tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan kisah panjang penyebaran Islam di wilayah pesisir selatan Jawa.
Keberadaan masjid ini menjadi bukti bahwa Cilacap memiliki jejak peradaban Islam yang kuat sejak masa lampau.
Nilai historisnya kian menarik perhatian publik karena pendiriannya disebut melibatkan keturunan dari salah satu tokoh Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga, yang dikenal luas berperan dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa.
Kini, Masjid Agung Darussalam tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata religi di Cilacap.
Kombinasi nilai sejarah, arsitektur tradisional, serta aktivitas ibadah yang tetap hidup menjadikan masjid ini sebagai magnet bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah.
Sejarah Pendirian Masjid Agung Darussalam Cilacap
Melansir dari laman Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, masjid ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1776 Masehi. Informasi tersebut merujuk pada temuan beduk kuno di dalam masjid yang memuat angka dalam tulisan Arab yang diyakini sebagai penanda tahun berdirinya bangunan.
Masjid Agung Darussalam didirikan oleh tokoh agama setempat, yakni Kyai Kali Husen dan Kyai Kali Ibrahim. Keduanya disebut sebagai keturunan atau memiliki garis keilmuan dari Sunan Kalijaga.
Pada masa itu, wilayah Cilacap masih dalam tahap awal perkembangan, sehingga keberadaan masjid ini menjadi pusat penyebaran ajaran Islam sekaligus ruang pembinaan umat.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari laman Pemerintah Kabupaten Cilacap, masjid yang berlokasi di Jalan Jenderal Soedirman, Sidanegara, Cilacap Tengah ini menjadi salah satu bangunan keagamaan tertua di daerah tersebut dan kini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Keunikan Arsitektur Bernuansa Jawa
Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Darussalam Cilacap mempertahankan gaya tradisional Jawa. Bentuk atapnya menyerupai joglo bertumpang, ciri khas masjid-masjid kuno di Pulau Jawa yang memadukan unsur budaya lokal dan nilai Islam Nusantara.
Keunikan lainnya terletak pada jumlah tiang penyangga di dalam bangunan utama. Jika masjid tradisional umumnya memiliki empat saka guru sebagai tiang utama, Masjid Agung Darussalam memiliki lebih banyak tiang penyangga yang memperkuat struktur bangunan.
Meski telah beberapa kali mengalami renovasi untuk kebutuhan perawatan dan penyesuaian fungsi, bentuk asli bangunan tetap dipertahankan guna menjaga nilai historisnya.

Pusat Ibadah dan Wisata Religi di Cilacap
Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Darussalam hingga kini menjadi pusat pelaksanaan ibadah besar seperti salat Jumat, salat Id, hingga kegiatan keagamaan selama Ramadan.
Aktivitas keagamaan yang rutin dan suasana yang khusyuk menjadikan masjid ini tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Lokasinya yang strategis di pusat kota turut mendukung perannya sebagai destinasi wisata religi di Cilacap.
Pengunjung tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga untuk menelusuri jejak sejarah Islam dan menikmati atmosfer bangunan berusia ratusan tahun.
Saksi Perjalanan Islam di Pesisir Selatan Jawa
Masjid Agung Darussalam Cilacap bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi perjalanan sejarah Islam di wilayah pesisir selatan Jawa.
Dengan latar pendirian yang melibatkan keturunan Sunan Kalijaga, masjid ini memiliki nilai historis yang tinggi sekaligus daya tarik sebagai destinasi wisata religi.
***

