Mengunjungi Desa Adipala di Kabupaten Cilacap memberikan pengalaman unik yang memadukan kekayaan sejarah masa lampau dengan geliat ekonomi kreatif modern.
Desa yang terletak di pusat Kecamatan Adipala ini tidak hanya dikenal sebagai titik strategis di pesisir selatan, tetapi juga menyimpan narasi besar mulai dari mandat Raja Surakarta hingga lahirnya mahakarya Batik Seloka yang kini menjadi identitas budaya lokal.
Legenda Penanaman Cikal dan Akar Nama Adipala
Sejarah Desa Adipala tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Susuhunan Amangkurat II dari Keraton Surakarta. Kala itu, Sang Raja memerintahkan penghijauan wilayah pantai selatan dengan ribuan pohon kelapa demi kesejahteraan rakyat.
Tugas besar ini diamanatkan kepada Tumenggung Ngabei Natapraja yang dibantu oleh Kyai Kebolodo.
Dalam legenda setempat, dikisahkan bahwa Ngabei Natapraja menggunakan kemampuan supranatural untuk menanam ribuan bibit kelapa (cikal) hanya dalam waktu tiga hari.
Keberhasilan ini meninggalkan jejak geografis seperti daerah “Kebon Cikal” dan “Kebon Dalem”. Namun, sebuah kesalahpahaman dengan utusan keraton memicu pertempuran yang membawa maut bagi Sang Tumenggung.
Nama Adipala diyakini lahir dari peristiwa tersebut. Saat Ngabei Natapraja tertangkap dan disiksa—atau dalam dialek Solo disebut dipolo—masyarakat lokal Kradenan (Banyumasan) menyebutnya dengan pelafalan dipala.
Seiring berjalannya waktu, istilah ini abadi menjadi nama desa yang menggantikan sebutan Kadipolo.

Estafet Pemerintahan: Menjaga Stabilitas Desa
Secara administratif, tata kelola Desa Adipala telah teruji oleh waktu. Sejak tahun 1946 hingga 1971, desa ini dipimpin oleh Wirjadimeja yang kala itu masih menggunakan jabatan Penatus.
Transformasi kepemimpinan berlanjut hingga penggunaan istilah Kepala Desa secara resmi pada tahun 1972 di bawah kepemimpinan Rembun Resajemika.
Kepemimpinan desa terus berganti secara demokratis melalui sosok-sosok visioner seperti Wiryo Sumarno, Nugroho Waluyadi, Haryadi, hingga era Ir. Subandono.
Saat ini, Desa Adipala berada di bawah kepemimpinan Bapak Subur (masa bakti 2022–2028), yang fokus pada keberlanjutan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Batik Seloka: Diplomasi Budaya dari Jalan Kantil
Di sektor ekonomi kreatif, Batik Seloka muncul sebagai primadona. Berlokasi di Jalan Kantil, usaha batik ini berkembang pesat sebagai program binaan PLTU Adipala 2 PGU. Batik ini menawarkan keunikan motif yang menggabungkan simbol lokal dan nilai universal, di antaranya:
- Parang Nusakambangan: Terinspirasi dari fungsi Pulau Nusakambangan sebagai pelindung alami Cilacap dari gelombang tsunami, melambangkan kekuatan dan perlindungan.
- Sekar Kantil: Diambil dari keharuman bunga kantil dengan filosofi agar pemakainya selalu dicintai (kemantil-mantil).
- Balakosa Nagari: Sebuah motif akulturasi yang mempertemukan simbol Monas dan Patung Liberty sebagai perlambang kemerdekaan dan perjuangan.

Kemandirian Ekonomi Lewat Kelompok Wanita Tani (KWT)
Kekuatan ekonomi Desa Adipala kian lengkap dengan peran aktif kaum perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Melalui tangan kreatif para anggotanya, lahan pekarangan diubah menjadi sumber penghasilan.

Beberapa kelompok unggulan tersebut antara lain KWT Sida Megar yang memproduksi abon lele dan bawang goreng, KWT Sekar Kamboja dengan inovasi teh bunga telang, serta KWT Sri Lumbung yang memproduksi minuman lidah buaya hingga camilan pangsit sayur.
Sinergi antara penghormatan terhadap akar sejarah, pelestarian seni batik, dan kemandirian pangan melalui KWT menjadikan Desa Adipala sebagai prototipe desa mandiri yang berdaya saing tinggi di Kabupaten Cilacap.

