Beranda / Banyumas Raya / Waspada Hantavirus, Masyarakat Banjarnegara Diminta Jaga Kebersihan Lingkungan

Waspada Hantavirus, Masyarakat Banjarnegara Diminta Jaga Kebersihan Lingkungan

Penjelasan penyakit Hantavirus yang dibawa oleh tikus. (Dok Meta AI)

Praktisi sekaligus pemerhati kesehatan masyarakat Kabupaten Banjarnegara, dr. Ahmad Setiawan, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada menyikapi kabar potensi penyebaran Hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus ini, tengah menjadi sorotan seiring dengan tingginya mobilitas manusia di era global.

​Menurut dr. Ahmad, kunci utama menghadapi ancaman virus ini bukanlah kepanikan, melainkan langkah preventif yang nyata di lingkungan rumah.

​”Langkah paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membiarkan rumah menjadi tempat berkembang biaknya tikus. Indonesia memiliki populasi tikus yang cukup banyak, ditambah perilaku masyarakat yang terkadang masih kurang peduli terhadap tumpukan sampah di sekitar pemukiman,” ujar dr. Ahmad kepada media.

 

​Mengenal Hantavirus dan Risikonya

​Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang menyerang organ paru-paru (Hantavirus Pulmonary Syndrome/HPS) atau pembuluh darah dan ginjal (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome/HFRS). Meski tergolong jarang, penyakit ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi, yakni sekitar 40% untuk kasus HPS dan 5–15% untuk HFRS.

​Hingga Mei 2026, strain Andes hantavirus yang dilaporkan dapat menular antarmanusia di Amerika Selatan belum ditemukan di Indonesia. Kasus yang pernah dilaporkan di tanah air umumnya berkaitan dengan strain Seoul virus (SEOV) yang murni menular dari tikus ke manusia.

 

​Gejala dan Cara Penularan

​Gejala biasanya muncul 1 hingga 8 minggu setelah terpapar. Pada tahap awal, penderita akan mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, serta gangguan pencernaan. Jika kondisi memburuk, gejala dapat berkembang menjadi sesak napas akut dan nyeri dada yang hebat.

​Penularan umumnya terjadi melalui:

  • ​Kontak langsung dengan feses, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi.
  • ​Menghirup partikel udara (droplet/debu) yang terkontaminasi virus.
  • ​Mengonsumsi makanan yang telah dihinggapi tikus.
  • ​Luka gigitan tikus.
Baca Juga  Mengejutkan! Persibangga Pulangkan Andre Putra Wibowo, Demi Perkuat Benteng Pertahanan Jelang 64 Besar Liga 4 Nasional 2026

 

​Imbauan Pencegahan

​Mengingat risiko penularan yang didominasi oleh faktor lingkungan, dr. Ahmad menekankan pentingnya prosedur perlindungan diri jika beraktivitas di area yang berpotensi menjadi sarang tikus. Pekerja konstruksi, jasa pengendalian hama, hingga mereka yang hobi berkemah dan mendaki gunung diminta lebih berhati-hati.

​”Intinya jangan mengundang tikus masuk ke rumah. Jika masyarakat mengalami gejala sakit, segera datangi fasilitas kesehatan terdekat sejak awal agar mendapatkan penanganan yang tepat,” tutupnya.

 

Tag: