Kabupaten Cilacap menjadi salah satu kabupaten yang ditetapkan sebagai daerah dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Jawa Tengah. Selain Cilacap, dua wilayah lain yang juga masuk kategori KLB adalah Klaten dan Pati. Sementara itu, Brebes dan Kudus masih berada dalam kategori suspek.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun meningkatkan kewaspadaan menyusul tren kenaikan kasus yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Upaya pencegahan difokuskan pada penguatan imunisasi serta edukasi masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, lonjakan kasus sudah terlihat sejak tiga tahun terakhir. Puncaknya terjadi pada Januari 2026 dengan jumlah mencapai 792 kasus suspek.
Penularan Tinggi, Imunisasi Jadi Strategi Utama
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Ia menyebut satu penderita campak dapat menularkan hingga 18 orang.
“Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan penularan COVID-19, sehingga langkah pencegahan harus benar-benar diperkuat,” ujar Taj Yasin usai menerima kunjungan kerja Komisi IX DPR RI di Semarang, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, penguatan program imunisasi menjadi langkah utama untuk menekan penyebaran. Selain itu, momentum ini juga dimanfaatkan untuk mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi yang sempat terdampak pandemi.

Cakupan Imunisasi Tinggi, Namun Masih Ada Tantangan
Meski kasus meningkat, capaian imunisasi di Jawa Tengah tergolong baik. Pada 2025, cakupan vaksinasi MR pada bayi bahkan mencapai 106,7 persen atau melampaui target yang ditetapkan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Maria Endang Sumiwi, menilai Jawa Tengah cukup berhasil menjaga angka imunisasi di tengah jumlah penduduk yang besar.
Namun demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah wilayah dengan cakupan rendah yang berpotensi menjadi titik penyebaran. Oleh karena itu, pemetaan hingga tingkat desa dinilai penting agar intervensi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Edukasi Publik Perlu Diperkuat
Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, menilai upaya pemerintah daerah sudah berjalan baik, namun perlu didukung edukasi publik yang lebih luas.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga pendidik, orang tua, tokoh masyarakat, hingga influencer dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi.
“Masih ada sebagian orang tua yang menolak imunisasi. Jika ini terus terjadi, risiko penularan akan semakin besar,” katanya.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengendalian
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa pengendalian campak tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat.
Melalui penguatan edukasi, peningkatan cakupan imunisasi, serta kolaborasi lintas sektor, diharapkan potensi lonjakan kasus dapat ditekan dan tidak meluas ke daerah lain.
Sebagai informasi, campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat mudah menular melalui percikan droplet saat batuk atau bersin. Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, serta ruam pada kulit. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, hingga kematian, terutama pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi.

