cilacaptoday.comcilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Reading: Wacana Gentengisasi Presiden Prabowo dan Nasib Perajin Atap Welit di Desa Wisata Kutawaru Cilacap
Share
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Search
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Follow US
cilacaptoday.com > Artikel > Cilacap > Wacana Gentengisasi Presiden Prabowo dan Nasib Perajin Atap Welit di Desa Wisata Kutawaru Cilacap
Cilacap

Wacana Gentengisasi Presiden Prabowo dan Nasib Perajin Atap Welit di Desa Wisata Kutawaru Cilacap

Arsya Al Kaisar
Last updated: 12 Februari 2026 20:54
Arsya Al Kaisar
Published: 12 Februari 2026
Share
Di era gentengisasi, kerajinan tangan Welit khas Desa Kutawaru, Cilacap masih bertahan hingga sekarang. (Foto: Ilustrasi AI/Canva Pro)
SHARE

Di tengah gemuruh rencana program ‘gentengisasi’ yang diusung pemerintah untuk meningkatkan standar hunian, sebuah desa di pesisir Cilacap memilih bergeming. Warga Desa Kutawaru, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, hingga kini masih setia memproduksi dan menggunakan Welit, atap tradisional dari daun nipah yang menjadi napas ekonomi sekaligus identitas budaya mereka.

Contents
  • ​Tantangan di Tengah Wacana Gentengisasi
  • ​Proses Tradisional yang Menghidupi
  • ​Jadi Daya Tarik Wisata Edukasi
  • ​Menjaga Warisan di Tengah Modernisasi

​Desa Kutawaru memang unik. Wilayahnya dikelilingi hutan mangrove yang rimbun dengan tanaman nipah. Dari sanalah, helai demi helai daun diolah menjadi penutup bangunan yang telah digunakan secara turun-temurun.

 

​Tantangan di Tengah Wacana Gentengisasi

​Wacana program gentengisasi yang mencuat di era Presiden Prabowo Subianto bertujuan mengganti atap rumah berbahan tradisional (rumbia/daun) menjadi genteng permanen. Langkah ini diambil demi faktor keamanan, kesehatan, dan ketahanan bangunan jangka panjang.

​Namun, bagi warga Kutawaru, Welit bukan sekadar material bangunan yang “kalah kelas” dari genteng. Welit adalah simbol adaptasi masyarakat pesisir terhadap alamnya. Meski rumah tinggal utama mulai beralih ke material modern, Welit tetap eksis pada bangunan semi-permanen, saung nelayan, hingga gazebo wisata.

 

​Proses Tradisional yang Menghidupi

​Ketersediaan bahan baku yang melimpah di sepanjang sungai membuat produksi Welit terus berdenyut. Proses pembuatannya pun masih sangat manual dan mengandalkan keterampilan tangan:

​Pemilihan Bahan: Daun nipah tua dipilih agar seratnya kuat.

​Penjemuran: Daun dijemur hingga setengah kering agar lentur dan tidak patah saat dianyam.

​Perakitan: Daun disusun dan dilipat pada bilah bambu tipis, lalu diikat menggunakan tali bambu atau serat alami.

​”Satu lembar Welit biasanya memiliki panjang 1 hingga 2 meter. Harganya cukup ekonomis, sekitar Rp 1.000 per lembar,” tulis narasi potensi desa tersebut. Meski murah, dalam sehari satu keluarga perajin bisa memproduksi ratusan lembar, menjadikannya tumpuan penghasilan tambahan bagi nelayan dan petani tambak setempat.

Baca Juga  Kilang Cilacap dan Pertamina RJBT Pastikan Stok BBM Aman Jelang Idulfitri

 

​Jadi Daya Tarik Wisata Edukasi

​Sebagai Desa Wisata, Kutawaru menyulap aktivitas pembuatan Welit menjadi atraksi menarik. Wisatawan yang datang untuk menyusuri hutan mangrove kini bisa belajar langsung cara menganyam atap tradisional ini.

​Nuansa tradisional yang dihadirkan oleh bangunan-bangunan beratap Welit memberikan nilai estetika tersendiri. Tak heran, permintaan kini tak hanya datang dari warga lokal, tapi juga dari luar daerah untuk kebutuhan dekorasi kafe atau penginapan bertema back to nature.

 

​Menjaga Warisan di Tengah Modernisasi

​Keberadaan Welit di masa depan kini bergantung pada keseimbangan antara pembangunan fisik dan pelestarian budaya. Di satu sisi, modernisasi hunian tidak terelakkan, namun di sisi lain, Welit adalah bukti nyata keterhubungan manusia dengan ekosistem mangrove.

​Warga Kutawaru membuktikan bahwa di tengah arus ‘gentengisasi’, kearifan lokal tetap memiliki ruang untuk bernapas, selama sumber daya alamnya terjaga dan kreativitas warganya terus diasah.

 

​Caption Foto: Di era gentengisasi, kerajinan tangan Welit khas Desa Kutawaru, Cilacap masih bertahan hingga sekarang. (Foto: Ilustrasi AI/Canva Pro)

1.280 Jemaah Haji Cilacap Dijadwalkan Berangkat Mei 2026
Resmikan Instalasi Pengolahan Air Maos, Bupati Syamsul: Jangan Sampai Rakyat Bayar Tapi Air Keruh!
Pastikan Pasokan Energi Aman, Kilang Cilacap Optimalkan Operasional Selama Ramadan dan Jelang Idulfitri
Evaluasi Pemkab Cilacap Disorot, LSM Seroja: Harus Jadi Momentum Pembenahan
Operasi Patuh Candi 2026 Ditunda, Warga Cilacap Tetap Diingatkan Taat Aturan Lalu Lintas
TAGGED:atap welitgentengnisasi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Threads Copy Link
TAHUN BARU ISLAM 26 CT
Berita Populer
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Standar Pedoman Penyelesaian Sengketa Pers
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan