Tersembunyi di kawasan Beji Lor, Tritih Kulon, Wisata Hutan Payau Cilacap tetap berdiri sebagai salah satu paru-paru hijau paling rimbun di wilayah Barlingmascakeb. Destinasi yang memadukan benteng alam pesisir dengan konsep rekreasi edukatif ini menawarkan pelarian sempurna dari hiruk-pikuk kota.
Akan tetapi, di balik kanopi mangrove yang rapat dan pesona matahari terbenamnya yang ikonik, kondisi infrastruktur yang mulai memprihatinkan kini menjadi tantangan besar bagi kenyamanan wisatawan.
Jejak Konservasi: Transformasi Lahan Abrasi Menjadi Hutan Kota
Hutan Payau Cilacap menyimpan sejarah panjang yang bermula sejak tahun 1978 di bawah naungan Perum Perhutani KPH Banyumas Barat.
Berawal dari upaya preventif menahan abrasi di pesisir selatan, kawasan seluas 10 hektar ini berevolusi menjadi destinasi wisata pada era 90-an sebelum akhirnya resmi ditetapkan sebagai Hutan Kota oleh Bupati Cilacap pada Maret 2009.
Keberhasilan konservasi di sini bukan sekadar penghijauan, melainkan upaya menjaga keseimbangan ekosistem laut yang vital bagi masyarakat sekitar.
Laboratorium Alam: Kekayaan Botani di Jantung Tritih Kulon
Sebagai pusat edukasi, area ini merupakan habitat bagi beragam varietas mangrove yang tumbuh subur.
Pengunjung dapat menjumpai Rhizophora Mucronata (Bakau Hitam) dengan akar tunjangnya yang kokoh, hingga jenis Bruguiera Gymnorrhiza (Tanjang) yang dikenal lewat bunganya yang merah menyala.
Tak ketinggalan, Avicennia Marina (Api-api) dan Xylocarpus Granatum (Nyiri) melengkapi keragaman botani di sana, menciptakan lorong hijau yang memberikan pasokan oksigen murni serta perlindungan bagi biota laut dan burung-burung lokal.
Pesona Golden Hour yang Tak Tertandingi
Magnet utama yang membuat wisatawan rela menempuh perjalanan ke ujung jalur trekking adalah pemandangan matahari terbenamnya.
Saat memasuki area perairan terbuka, langit Cilacap berubah menjadi kanvas jingga yang dramatis. Pantulan sinar keemasan pada air yang tenang serta siluet hutan mangrove menciptakan komposisi visual yang luar biasa estetik.
Bahkan saat air surut, hamparan lumpur di sekitarnya memberikan tekstur alami yang sangat dicintai oleh para pegiat fotografi dan pencinta ketenangan.
Ironi Keindahan: Catatan dari Lensa Pengunjung
Sayangnya, kemolekan alam tersebut kini kontras dengan kondisi fisik infrastruktur yang mulai lapuk. Hal ini sempat memicu kekhawatiran di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun TikTok @retnobdtm_11 yang memperlihatkan jalur trekking beton yang retak, licin, dan tidak stabil di beberapa titik.
Melalui unggahan videonya, terlihat jelas kontras antara keindahan alam dengan kondisi fisik bangunan yang mulai rusak.
Kurangnya pemeliharaan rutin membuat kawasan ini terkesan sepi dan terbengkalai, sebuah risiko besar bagi keselamatan pengunjung—terutama bagi keluarga yang membawa anak-anak—mengingat jembatan kayu yang mulai rapuh.
Menanti Langkah Revitalisasi Demi Menjaga Warisan Hijau
Dengan tarif masuk yang sangat terjangkau, sebesar Rp7.500, Hutan Payau Cilacap memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
Namun, sinergi antara pengelola dan pemerintah daerah sangat dinantikan untuk segera melakukan pembenahan fasilitas, mulai dari jalur trekking hingga area duduk (gazebo).
Revitalisasi yang tepat sasaran akan mengembalikan marwah Hutan Payau tidak hanya sebagai titik melihat sunset, tetapi sebagai standar emas wisata edukasi mangrove yang membanggakan di Jawa Tengah.

