Pemerintah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi sebagai fondasi utama pembangunan daerah yang berkelanjutan. Langkah taktis ini diwujudkan lewat penganugerahan Lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) serta Riset Unggulan Daerah (RUD) Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Bappeda Cilacap, Selasa, 19 Mei 2026.
Ajang tahunan ini menjadi instrumen penting pemerintah daerah dalam menjaring gagasan aplikatif dari kalangan pelajar, mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum. Fokus utamanya adalah menghasilkan teknologi tepat guna yang mampu menjawab tantangan riil di masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bappeda) Kabupaten Cilacap, Imam Jauhari, menegaskan bahwa pengembangan riset saat ini diarahkan untuk mendongkrak kesejahteraan warga sekaligus menaikkan daya saing daerah.
”Melalui Krenova dan RUD, kami ingin membangun ekosistem riset yang kreatif guna meningkatkan Indeks Inovasi Daerah (IID) dan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Cilacap,” ujar Imam dalam sambutannya, Selasa.
Menurut Imam, Krenova berfungsi sebagai ruang pembinaan ide kreatif masyarakat. Sementara itu, RUD dirancang khusus untuk memperkuat kebijakan pembangunan berbasis bukti (evidence-based policy). Pada tahun ini, RUD mengusung tema strategis, yakni “Transformasi Daya Saing UMKM Berbasis Digital dan Hilirisasi sebagai Pilar Penguatan Ekonomi Daerah yang Mandiri dan Berkelanjutan”.
Pemerintah daerah berkomitmen tidak akan membiarkan inovasi ini berhenti di atas kertas. “Inovasi potensial yang lahir akan kami fasilitasi ke tingkat yang lebih tinggi, baik melalui lomba tingkat provinsi, pendampingan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), maupun program inkubator bisnis,” tambah Imam.
Antusiasme Tinggi dan Ragam Inovasi Hijau
Animo warga Cilacap dalam kompetisi tahun ini melonjak tajam. Panitia mencatat ada 52 proposal di kategori pelajar (SMP/SMA sederajat) dan 54 proposal di kategori masyarakat umum. Seluruh peserta harus melewati kurasi ketat, mulai dari seleksi administrasi, penilaian substansi, hingga presentasi di hadapan dewan juri dari kalangan akademisi dan praktisi.
Plt Bupati Cilacap yang diwakili Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah, Annisa Fabriana, mengapresiasi tingginya partisipasi ini. Menurut dia, hal tersebut mencerminkan besarnya kepedulian warga terhadap persoalan di daerahnya.
”Kegiatan ini bukan semata-mata perlombaan, tetapi upaya membangun budaya riset. Saya berharap hasil riset maupun inovasi ini dapat terus dikembangkan, dihilirisasi, dan diimplementasikan secara nyata,” kata Annisa.
Dalam kategori Pelajar, SMP Islam Al Azhar 15 Cilacap menyabet juara pertama lewat inovasi “MUSAVERRA-RIZ VCO”, sebuah bio demulsifier berbahan ekstrak bonggol pisang dan belimbing wuluh untuk efisiensi produksi minyak kelapa. Disusul oleh SMK Negeri 1 Kawunganten di posisi kedua dengan sistem pemilah sampah otomatis berbasis AI dan IoT bernama “SEMAR”. Tempat ketiga diraih SMA Negeri 1 Maos melalui “MOCA (Mosquito Clock Alert)”, alat pendeteksi nyamuk Aedes aegypti berbasis frekuensi kepakan sayap.
Sementara di kategori Masyarakat Umum, Universitas Komputama Cilacap keluar sebagai pemenang lewat inovasi pemanfaatan limbah klobot jagung menjadi suvenir bernilai ekonomi. Juara kedua diraih mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui teknologi energi baru terbarukan modular berbasis surya dan angin bernama “HIEREN”, dan juara ketiga ditempati oleh inovasi Tempat Sampah Pencacah (TSP) yang mendukung ekonomi sirkular.
Adapun penghargaan tertinggi Riset Unggulan Daerah (RUD) 2026 dianugerahkan kepada tim peneliti yang mengangkat judul “Transformasi UMKM Olahan Pisang di Kecamatan Sidareja melalui Optimalisasi Teknologi Pengasapan untuk Peningkatan Kualitas dan Hilirisasi Produk”. Atas capaian berbasis hilirisasi pangan tersebut, pemenang RUD berhak mendapatkan dana stimulan penelitian sebesar Rp 30 juta beserta piagam penghargaan resmi dari Bupati Cilacap.

