Akses menuju Dusun Tembolan, Desa Plorengan, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, terputus total. Hal ini terjadi setelah jembatan utama penghubung antardusun di wilayah tersebut ambrol pada Sabtu (2/5/2026) sekitar pukul 17.10 WIB.
Kepala Desa Plorengan, Risno, menjelaskan bahwa ambrolnya jembatan dipicu oleh pengikisan struktur bangunan akibat tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Walaupun pada saat kejadian cuaca di lokasi cenderung cerah, kondisi pondasi yang sudah tergerus air sungai membuat jembatan tidak lagi mampu menahan beban.
”Kondisi jembatan memang sudah mengalami pengikisan cukup parah akibat hujan dengan intensitas tinggi. Pada puncaknya, jembatan ambrol dan menyebabkan akses ke Dusun Tembolan terputus total,” ujar Risno saat dikonfirmasi, Ahad (3/5/2026).
Akibat kejadian ini, mobilitas warga menjadi terhambat. Meski terdapat jalur alternatif, kondisinya dinilai kurang memadai karena masih berupa jalan makadam yang terjal dan ekstrem. Jalur tersebut sangat sulit dilalui, terutama bagi kendaraan roda empat.
Upaya Penanganan Darurat
Tim gabungan yang terdiri dari unsur Pemerintah Kecamatan Kalibening, Pemerintah Desa Plorengan, Polsek, Koramil, relawan Destana, TRC, serta warga setempat telah melakukan peninjauan di lokasi. Petugas juga telah menutup akses jembatan secara total demi keamanan warga.
Risno menyebutkan bahwa saat ini warga sangat membutuhkan material untuk membangun jembatan darurat agar aktivitas tidak lumpuh total. Ia berharap ada perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.
”Warga mengusulkan kebutuhan mendesak berupa bambu, kayu, dan papan untuk jembatan darurat sembari menunggu perbaikan permanen. Kami sangat berharap Bupati Banjarnegara berkenan membantu percepatan pembangunan jembatan ini,” tambahnya.
Dampak Ekonomi dan Pendidikan
Keluhan serupa disampaikan oleh Suyatno (45), salah satu warga Dusun Tembolan. Ia mengaku harus memutar melalui jalan yang rusak dan berbahaya untuk membawa hasil panen ke pasar.
”Kami khawatir kalau dibiarkan lama, aktivitas ekonomi warga jadi terganggu. Anak-anak juga kesulitan kalau harus berangkat sekolah lewat jalur yang ekstrem,” ungkap Suyatno.
Hingga saat ini, warga bersama para relawan terus berkoordinasi untuk mengupayakan langkah-langkah darurat agar akses pendidikan dan ekonomi di Desa Plorengan dapat segera kembali normal.

