Sejarah panjang perkeretaapian masa Hindia Belanda kembali menjadi sorotan. Sebuah lokomotif uap berusia hampir satu abad yang pernah beroperasi di Pabrik Gula (PG) Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, kini tengah menjalani proses restorasi di Belanda.
Kisah penyelamatan aset bersejarah ini diungkap dalam webinar internasional bertajuk 100 Year D&B Locomotive of PG Soemberhardjo yang digelar oleh Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) pada Minggu (21/6/2026).
Peneliti sejarah perkeretaapian asal Belanda, Gerrard de Graaf, menjelaskan bahwa lokomotif berjalur sempit yang kini bernama resmi Soemberhardjo Nomor 09 tersebut memiliki rekam jejak panjang. Sebelum dipindahkan ke PG Sumberharjo dan akhirnya diboyong ke Belanda, armada ini merupakan tulang punggung angkutan tebu di PG Klampok.
Birokrasi Panjang dan Biaya Besar
Membawa pulang lokomotif tersebut ke Eropa bukan perkara mudah. Perwakilan dari The Nederlands Smalspoor Museum tersebut membeberkan bahwa pihaknya harus melewati proses birokrasi dan perizinan yang rumit dengan Pemerintah Indonesia.
”Dua lokomotif yang kami bawa ke Belanda harus melewati birokrasi yang cukup panjang. Selain itu, kami juga harus menebusnya sebesar 5.000 dolar AS (sekitar Rp81 juta) kepada Kementerian BUMN. Biaya pengangkutannya pun sangat mahal,” ujar Gerrard, yang juga penulis buku De Indische Mijnspoorwegen.
Meski menelan biaya besar, Gerrard berharap langkah ini menjadi jembatan kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Belanda dalam hal pertukaran informasi serta pelestarian artefak sejarah di masa depan. Ia juga membuka diri untuk membantu menyediakan akses data sejarah PG Klampok yang tersimpan di arsip Belanda.
Keprihatinan Nasib Aset Sejarah
Upaya restorasi oleh komunitas Du Croo and Brauns Locomotive di Belanda ini mendapat apresiasi sekaligus catatan kritis dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Banjarnegara. Ketua TACB Banjarnegara, Heni Purwono, menyayangkan masih banyaknya aset perkeretaapian bernilai tinggi di dalam negeri yang terbengkalai, bahkan berakhir di tempat loak.
”Kami prihatin karena banyak aset sejarah yang luar biasa justru terbengkalai. Bahkan beberapa lokomotif uap yang memiliki nilai sejarah tinggi pernah dijual sebagai besi kiloan. Padahal pelestarian sejarah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama,” tegas Heni.
Saat ini, Pemkab Banjarnegara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tengah berupaya keras menyelamatkan kawasan bekas PG Klampok. Beberapa bangunan inti telah ditetapkan sebagai cagar budaya, dan saat ini sedang diusulkan agar seluruh kawasan bekas pabrik gula tersebut mendapat status kawasan cagar budaya demi melindungi struktur dan benda bersejarah yang tersisa.

