Beranda / Cilacap / Ada Anggur Merah dalam Sesaji Memetri Bumi di Cilacap, Ini Maknanya

Ada Anggur Merah dalam Sesaji Memetri Bumi di Cilacap, Ini Maknanya

Minuman Khusus dalam Sesaji Memetri Bumi di Maos Kidul Cilacap. (Dok).

Tradisi memetri bumi di Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menarik perhatian warga karena keunikan sesaji yang digunakan dalam ritual adat tersebut. Selain berbagai hasil bumi, makanan tradisional, dan rangkaian bunga, tampak pula sebotol anggur merah yang turut disertakan dalam sesaji.

Di antara aneka persembahan berupa makanan, bunga, dan hasil bumi, tampak sebotol anggur merah yang disajikan dalam sesaji tradisi tersebut. Minuman itu diletakkan bersama perlengkapan sesaji lainnya di dalam tampah dan dipajang di ruang kerja kepala desa setempat.

Tradisi ini merupakan bagian dari ritual adat yang rutin digelar masyarakat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama demi keselamatan dan keberkahan desa.

 

Anggur Merah Jadi Bagian Sesaji Turun-Temurun

Kepala Desa Maos Kidul, Beng Sunarjo, mengatakan penggunaan minuman beralkohol dalam sesaji bukan hal baru. Menurutnya, tradisi itu sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat sejak zaman dahulu.

Ia menjelaskan, dahulu masyarakat kemungkinan menggunakan arak atau minuman tradisional lain sebagai bagian persembahan adat. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk sajian kemudian menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

“Dari dulu memang sudah ada. Mungkin dulunya arak atau minuman lain, lalu sekarang lebih mudah menggunakan anggur merah,” ujarnya.

Kepala desa yang akrab disapa Jebeng itu menyebut, minuman tersebut juga memiliki keterkaitan dengan kebiasaan petani zaman dulu. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, minuman semacam itu dipercaya membantu memulihkan stamina setelah bekerja seharian di sawah.

“Dulu dipercaya untuk mengembalikan tenaga petani setelah lelah bekerja. Biasanya diminum sedikit dicampur telur ayam atau telur bebek supaya badan kembali segar,” ujarnya.

 

Bukan Sekadar Simbol, tapi Wujud Doa Warga

Dalam tradisi memetri bumi yang digelar pada Sabtu (16/5/2026) itu, sesaji tidak hanya dimaknai sebagai pelengkap ritual adat. Warga Desa Maos Kidul percaya persembahan tersebut menjadi simbol doa dan harapan agar kehidupan masyarakat tetap harmonis dan dijauhkan dari berbagai hal buruk.

Baca Juga  6 Pilihan Paket Wisata Wanarata di Karangmangu Cilacap: Half Day hingga 2 Hari 1 Malam

Berbagai jenis makanan, bunga, hingga minuman yang disajikan mencerminkan ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi dan kehidupan yang telah dijalani selama ini.

Sunarjo mengatakan tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan warga sekaligus mengingatkan masyarakat agar menjauhi sifat-sifat negatif dalam kehidupan sosial.

“Ini bentuk rasa syukur dan doa bersama supaya warga dijauhkan dari iri, dengki, maupun hal-hal buruk lainnya,” katanya.

Selain itu, warga juga berharap desa mereka senantiasa diberi keselamatan dan terhindar dari marabahaya maupun musibah.

“Harapannya tentu supaya desa tetap aman, tenteram, dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

 

Tag: