Pemerintah Kabupaten Cilacap mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan terjadi pada musim kemarau 2026. Sejumlah langkah strategis pun disiapkan sejak dini, salah satunya dengan menyiagakan sekitar 250 tangki air bersih untuk membantu masyarakat di wilayah rawan terdampak.
Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), upaya antisipasi ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar warga, khususnya ketersediaan air bersih saat debit sumber air mulai menurun.
Sebagai bagian dari kesiapan tersebut, Pemkab Cilacap menggelar rapat koordinasi lintas sektor pada Rabu (6/5/2026). Pertemuan ini menjadi ajang konsolidasi berbagai pihak untuk menyatukan langkah dalam menghadapi ancaman kekeringan.
Rapat tersebut melibatkan sejumlah elemen penting, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), BUMN, BUMD, instansi vertikal, hingga sektor swasta dan relawan kebencanaan. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat respons cepat serta memastikan distribusi bantuan air bersih berjalan efektif dan merata ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan koordinasi ini penting untuk memastikan seluruh elemen siap bergerak bersama saat terjadi kekeringan.
“Rapat ini sebagai bentuk antisipasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026, dengan melibatkan berbagai pihak agar penanganan bisa dilakukan secara terpadu,” ujarnya.
Ia menegaskan, meskipun pemerintah tidak mengharapkan terjadinya bencana, langkah mitigasi harus tetap dilakukan sejak awal guna meminimalkan dampak yang mungkin timbul.
Fokus pada Kebutuhan Air Bersih Warga
Dalam menghadapi musim kemarau, ketersediaan air bersih menjadi perhatian utama. BPBD Cilacap telah menyiapkan sekitar 250 tangki air bersih yang siap didistribusikan ke wilayah terdampak apabila dibutuhkan.
“Untuk air bersih, saat ini kami sudah menyiapkan sekitar 250 tangki yang siap disalurkan ke masyarakat,” kata Taryo.
Selain itu, BPBD juga telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan air bersih. Dukungan tambahan disiapkan melalui kerja sama dengan berbagai elemen, seperti perusahaan melalui program CSR, PMI, hingga Baznas.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada permintaan distribusi air bersih dari wilayah. Hal ini seiring musim kemarau yang belum sepenuhnya berlangsung di Kabupaten Cilacap.
Kemarau Diprediksi Mulai Mei, Puncak Agustus
Berdasarkan prakiraan dari BMKG, musim kemarau di Cilacap diperkirakan mulai pada dasarian kedua Mei, terutama di wilayah timur seperti Kecamatan Binangun dan Adipala.
Sementara itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan dapat berlangsung hingga September atau Oktober, dengan durasi sekitar lima hingga enam bulan.
Untuk mendukung distribusi air bersih, BPBD juga memastikan kesiapan armada. Saat ini tersedia tiga unit mobil tangki, terdiri dari dua unit di kantor induk dan satu unit di UPT Majenang. Selain itu, satu unit armada tambahan dari pemerintah provinsi juga akan segera bergabung.
Taryo berharap berbagai langkah yang telah disiapkan mampu menekan dampak kekeringan, sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
“Harapan kami tentu Cilacap tetap aman. Namun jika ada potensi kekeringan, kami siap bergerak cepat membantu masyarakat,” pungkasnya.

