Di tengah keriuhan Pasar Tanjungsari, Cilacap, sosok Sumiyati dikenal sebagai penerus setia usaha bubur sumsum milik ibunya. Namun, tahun ini ada yang berbeda dari rutinitas harian perempuan bersahaja tersebut. Setelah belasan tahun menyisihkan receh demi receh dari hasil berjualan kuliner tradisional, mimpi besarnya untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci akhirnya menjadi kenyataan.
Sumiyati dijadwalkan berangkat menunaikan ibadah haji pada musim 1447 H / 2026 M. Perjalanan spiritual ini terasa kian emosional karena ia akan berangkat mendampingi ibundanya yang kini telah lanjut usia.
”Saya sehari-hari jualan bubur sumsum di Pasar Tanjungsari, melanjutkan Ibu yang sudah kesepuhan,” ujar Sumiyati saat ditemui pada Selasa, 5 Mei 2026.
Keteguhan Hati Selama Delapan Tahun
Langkah Sumiyati menuju Baitullah tidaklah instan. Ia mengaku telah mulai menabung sejak belasan tahun lalu. Keteguhan hatinya membuahkan hasil ketika ia resmi mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2018. Setelah menanti selama delapan tahun, namanya akhirnya masuk dalam daftar keberangkatan tahun ini.
Dalam mempersiapkan ibadahnya, Sumiyati dan ibunya bergabung dengan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Miftahul Jannah di bawah naungan Badan Dakwah Islam (BDI) PT Pertamina Patra Niaga (PPN) RU IV Cilacap. Meski awalnya sempat mengira lembaga tersebut eksklusif untuk kalangan korporasi, ia mengaku terkejut dengan pelayanan yang diterimanya.
”Saya merasa dibimbing dan dilayani sama, tidak ada perbedaan sama sekali. Mungkin orang luar kira KBIHU Miftahul Jannah hanya khusus untuk orang Pertamina, ternyata tidak sama sekali,” katanya.
Inklusivitas Layanan Haji
Sumiyati merupakan satu dari 45 jemaah dalam kelompok bimbingan tersebut yang berasal dari berbagai latar belakang profesi. General Manager PT PPN RU IV Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo, menegaskan bahwa lembaga bimbingan mereka memang mengedepankan prinsip inklusivitas.
”Di sini kami memandang sama, baik pekerja atau bukan pekerja PT PPN RU IV Cilacap,” ujar Wahyu. Ia menambahkan bahwa fokus utama lembaga adalah memastikan jemaah meraih predikat haji mabrur melalui bimbingan manasik yang intensif dan mandiri.
Sumiyati yang tergabung dalam Kloter 76 dijadwalkan bertolak melalui Gedung IPHI Cilacap pada 16 Mei 2026. Baginya, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bukti bahwa kesabaran seorang penjual bubur sanggup menembus batas penantian panjang menuju Tanah Suci.

