Pernahkah Anda merasa tertawa bahagia di siang hari, namun tiba-tiba merasakan kehampaan yang luar biasa saat malam tiba? Fenomena ini kini menjadi “penyakit” tersembunyi di tengah masyarakat modern.
Meski pencapaian mentereng dipamerkan di media sosial dan kesuksesan finansial telah diraih, rasa sepi yang bergema di dalam hati sering kali sulit dijelaskan. Seolah-olah ada potongan puzzle yang hilang dari jiwa manusia.
Penyesalan yang Datang Terlambat
Banyak yang mengira rasa hampa ini hanyalah masalah psikologis biasa. Namun, jika ditelaah lebih dalam, kehampaan ini sering kali merupakan bentuk peringatan dini sebelum datangnya penyesalan yang hakiki.
Dalam ajaran Islam, Allah SWT telah memberikan peringatan memilukan mengenai “Hari Penyesalan” (al-hasrah). Sebagaimana tertuang dalam QS. Maryam: 39, penyesalan total terjadi ketika segala perkara telah diputuskan, sementara manusia dahulu lalai dan tidak beriman.
Kata al-hasrah menggambarkan penyesalan yang sangat dalam hingga dada terasa sesak, namun tidak lagi mampu mengubah keadaan. Masalah utamanya bukanlah kurangnya dalil atau peringatan, melainkan kebiasaan manusia menunda taubat karena merasa waktu masih panjang.
Jeritan “Kembalikan Aku ke Dunia”
Ketika kematian menjemput, barulah kesadaran manusia memuncak. Dalam QS. Al-Mu’minun: 99, digambarkan bagaimana jiwa yang lalai memohon: “Ya Rabbku, kembalikan aku.”
Menariknya, permintaan mereka sangat sederhana. Mereka tidak meminta harta atau umur panjang untuk bersenang-senang, melainkan hanya meminta satu kesempatan untuk beramal saleh. Namun, jawaban Allah sangat tegas: kallā—sekali-kali tidak. Pintu telah tertutup selamanya.
Mengapa Orang Saleh Juga Menyesal?
Ternyata, penyesalan bukan hanya milik mereka yang durhaka. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap orang yang meninggal pasti akan menyesal:
Orang Saleh: Menyesal karena merasa tidak maksimal dalam menambah kebaikannya.
Orang Buruk: Menyesal karena tidak segera berhenti dari keburukannya.
Penyesalan di akhirat disebut lebih menyiksa daripada api neraka. Mengapa? Karena ia datang bersama kesadaran penuh bahwa keselamatan itu sebenarnya sangat mungkin diraih saat di dunia, namun disia-siakan.
Jebakan Kata “Nanti Saja”
Ibnul Qayyim رحمه الله mengingatkan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian. Kematian hanya memutus hubungan dengan dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutus hubungan dengan Allah.
Setiap penyesalan besar di akhirat umumnya bermula dari satu kalimat sederhana di dunia: “nanti saja”.
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka lebar. Air mata penyesalan hari ini masih bernilai, dan perubahan masih dicatat sebagai pahala. Jangan menunggu penyesalan datang saat semua sudah terlambat.

