Di balik meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, tersimpan persoalan pelik yang tak kalah berat dihadapi para penyintas. Masalah tersebut adalah stigma negatif dan diskriminasi sosial.
Bagi sebagian Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV), tantangan terbesar yang mereka hadapi bukan sekadar menjalani ritual pengobatan yang panjang, melainkan bagaimana bertahan di tengah penolakan dan pandangan miring dari lingkungan sekitar.
Ketua Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Bara Plus, Andian mengungkapkan, kasus HIV/AIDS di Banjarnegara sejatinya pertama kali ditemukan pada tahun 2003 silam. Namun seiring berjalannya waktu, grafik kasus terus merangkak naik. Ironisnya, saat ini temuan kasus didominasi oleh kelompok usia produktif.
”Kasus kini banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 17 hingga 35 tahun. Kurangnya informasi dan edukasi yang memadai tentang HIV/AIDS membuat sebagian masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru mengenai cara penularan maupun penanganannya,” ujar Andian saat berbincang, Rabu (3/6).
Dampak dari minimnya edukasi ini terbilang fatal. Tidak sedikit penderita yang baru menyadari status kesehatannya ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut atau fase AIDS. Kondisi keterlambatan ini membuat proses penanganan medis menjadi jauh lebih kompleks dan peluang pemulihan kian menantang.
Teror Stigma dan Ancaman Putus Obat
Menurut Andian, penderitaan ODHIV tidak berhenti pada urusan fisik dan kesehatan semata. Stigma serta diskriminasi yang masih mengakar kuat di masyarakat kerap kali menjadi momok yang menakutkan, hingga membuat mereka enggan mengakses layanan kesehatan secara rutin.
”Masih banyak ODHIV yang takut terbuka karena khawatir mendapat penolakan dari lingkungan sekitar. Dampaknya, ada yang tidak melanjutkan terapi antiretroviral (ART) maupun pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya,” bebernya.
Kondisi psikologis yang tertekan ini memicu melonjaknya angka Lost to Follow Up (LFU), sebuah istilah medis untuk pasien yang terputus dari pengobatan dan pemantauan kesehatan. Padahal, kepatuhan dan keberlanjutan terapi ART merupakan kunci utama agar ODHIV dapat mempertahankan kualitas hidup, tetap sehat, dan produktif.
Lahirnya KDS Bara Plus sebagai ‘Ruang Aman’
Berangkat dari rasa prihatin yang mendalam, sejumlah aktivis dan pendamping HIV/AIDS di Banjarnegara mulai bergerak secara swadaya sejak tahun 2017. Mereka melacak data dan merangkul para ODHIV yang bersembunyi dalam kesunyian.
Gerakan kemanusiaan ini akhirnya mengkristal menjadi sebuah Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang resmi berdiri pada April 2019 dengan nama KDS Bara Plus. Komunitas ini hadir bagaikan ‘rumah sepi’ yang ramah—sebuah ruang aman bagi para penyintas untuk saling berbagi keluh kesah, mendapatkan dukungan psikososial, dan merajut kembali rasa percaya diri yang sempat hancur.
”Kami ingin teman-teman ODHIV merasa tidak sendiri. Mereka tetap memiliki harapan, masa depan, dan kesempatan yang sama untuk hidup produktif,” tegas Andian penuh optimisme.
Saat ini, KDS Bara Plus tengah gencar melakukan penelusuran (tracing) terhadap para ODHIV yang terindikasi putus obat. Program jemput bola ini baru berjalan sekitar dua minggu, sehingga data lapangan yang masuk masih dalam proses verifikasi ketat.
Tak sekadar mendampingi, komunitas ini juga sedang berupaya memperkuat legalitas organisasinya. Ke depan, KDS Bara Plus direncanakan bersalin nama menjadi KDS Bara Berdaya. Perubahan nama ini diusung sebagai simbol semangat baru untuk memberdayakan dan memandirikan para penyintas secara ekonomi dan sosial.
Berharap Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Andian mengetuk hati masyarakat agar lebih peduli terhadap isu HIV/AIDS dengan cara aktif memeriksakan kesehatan dini dan menyetop segala bentuk stigma. Baginya, dukungan sosial adalah obat non-medis yang paling mujarab untuk mendongkrak angka harapan hidup ODHIV.
”Kami berharap masyarakat lebih aware terhadap HIV/AIDS, tidak lagi memberikan stigma dan diskriminasi. Yang dibutuhkan ODHIV adalah dukungan, bukan penghakiman,” tuturnya.
Selain kepada masyarakat, ia juga menaruh harapan besar agar pemerintah daerah memberikan porsi perhatian dan stimulus yang lebih nyata bagi komunitas pendamping. Pemerintah diharapkan hadir menjadi bagian dari sistem dukungan (support system) yang kokoh dalam peta jalan penanggulangan HIV/AIDS di Banjarnegara.
”HIV/AIDS bukan alasan untuk mengucilkan seseorang. Dengan pengetahuan yang benar, kepedulian, dan dukungan bersama, stigma dapat dihapuskan dan para penyintas dapat menjalani hidup secara sehat, bermartabat, dan produktif di tengah masyarakat,” pungkasnya.

