cilacaptoday.comcilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Reading: Cerita Heroik dari Banjarnegara: KDS Bara Plus, ‘Rumah Sepi’ Bagi Penyintas ODHIV Berjuang Melawan Stigma
Share
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Search
  • Beranda
  • Cilacap
  • Banyumas Raya
  • Jateng
  • Nasional
  • Khazanah
  • Indeks
Follow US
cilacaptoday.com > Artikel > Banyumas Raya > Cerita Heroik dari Banjarnegara: KDS Bara Plus, ‘Rumah Sepi’ Bagi Penyintas ODHIV Berjuang Melawan Stigma
Banyumas Raya

Cerita Heroik dari Banjarnegara: KDS Bara Plus, ‘Rumah Sepi’ Bagi Penyintas ODHIV Berjuang Melawan Stigma

Heri Cahyono
Last updated: 3 Juni 2026 22:42
Heri Cahyono
Published: 4 Juni 2026
Share
Komunitas KDS Bara Plus (baju hitam) saat telusur data ODHIV melibatkan tenaga kesehatan setempat. (Foto: KDS Bara Plus)
Komunitas KDS Bara Plus (baju hitam) saat telusur data ODHIV melibatkan tenaga kesehatan setempat. (Foto: KDS Bara Plus)
SHARE

Di balik meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, tersimpan persoalan pelik yang tak kalah berat dihadapi para penyintas. Masalah tersebut adalah stigma negatif dan diskriminasi sosial.

Contents
  • ​Teror Stigma dan Ancaman Putus Obat
  • ​Lahirnya KDS Bara Plus sebagai ‘Ruang Aman’
  • ​Berharap Dukungan Pemerintah dan Masyarakat

​Bagi sebagian Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV), tantangan terbesar yang mereka hadapi bukan sekadar menjalani ritual pengobatan yang panjang, melainkan bagaimana bertahan di tengah penolakan dan pandangan miring dari lingkungan sekitar.

​Ketua Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Bara Plus, Andian mengungkapkan, kasus HIV/AIDS di Banjarnegara sejatinya pertama kali ditemukan pada tahun 2003 silam. Namun seiring berjalannya waktu, grafik kasus terus merangkak naik. Ironisnya, saat ini temuan kasus didominasi oleh kelompok usia produktif.

​”Kasus kini banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 17 hingga 35 tahun. Kurangnya informasi dan edukasi yang memadai tentang HIV/AIDS membuat sebagian masyarakat masih memiliki pemahaman yang keliru mengenai cara penularan maupun penanganannya,” ujar Andian saat berbincang, Rabu (3/6).

​Dampak dari minimnya edukasi ini terbilang fatal. Tidak sedikit penderita yang baru menyadari status kesehatannya ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut atau fase AIDS. Kondisi keterlambatan ini membuat proses penanganan medis menjadi jauh lebih kompleks dan peluang pemulihan kian menantang.

 

​Teror Stigma dan Ancaman Putus Obat

​Menurut Andian, penderitaan ODHIV tidak berhenti pada urusan fisik dan kesehatan semata. Stigma serta diskriminasi yang masih mengakar kuat di masyarakat kerap kali menjadi momok yang menakutkan, hingga membuat mereka enggan mengakses layanan kesehatan secara rutin.

​”Masih banyak ODHIV yang takut terbuka karena khawatir mendapat penolakan dari lingkungan sekitar. Dampaknya, ada yang tidak melanjutkan terapi antiretroviral (ART) maupun pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya,” bebernya.

Baca Juga  Polres Banjarnegara Luncurkan Hotline Pengaduan Ketenagakerjaan

​Kondisi psikologis yang tertekan ini memicu melonjaknya angka Lost to Follow Up (LFU), sebuah istilah medis untuk pasien yang terputus dari pengobatan dan pemantauan kesehatan. Padahal, kepatuhan dan keberlanjutan terapi ART merupakan kunci utama agar ODHIV dapat mempertahankan kualitas hidup, tetap sehat, dan produktif.

 

​Lahirnya KDS Bara Plus sebagai ‘Ruang Aman’

​Berangkat dari rasa prihatin yang mendalam, sejumlah aktivis dan pendamping HIV/AIDS di Banjarnegara mulai bergerak secara swadaya sejak tahun 2017. Mereka melacak data dan merangkul para ODHIV yang bersembunyi dalam kesunyian.

​Gerakan kemanusiaan ini akhirnya mengkristal menjadi sebuah Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang resmi berdiri pada April 2019 dengan nama KDS Bara Plus. Komunitas ini hadir bagaikan ‘rumah sepi’ yang ramah—sebuah ruang aman bagi para penyintas untuk saling berbagi keluh kesah, mendapatkan dukungan psikososial, dan merajut kembali rasa percaya diri yang sempat hancur.

​”Kami ingin teman-teman ODHIV merasa tidak sendiri. Mereka tetap memiliki harapan, masa depan, dan kesempatan yang sama untuk hidup produktif,” tegas Andian penuh optimisme.

​Saat ini, KDS Bara Plus tengah gencar melakukan penelusuran (tracing) terhadap para ODHIV yang terindikasi putus obat. Program jemput bola ini baru berjalan sekitar dua minggu, sehingga data lapangan yang masuk masih dalam proses verifikasi ketat.

​Tak sekadar mendampingi, komunitas ini juga sedang berupaya memperkuat legalitas organisasinya. Ke depan, KDS Bara Plus direncanakan bersalin nama menjadi KDS Bara Berdaya. Perubahan nama ini diusung sebagai simbol semangat baru untuk memberdayakan dan memandirikan para penyintas secara ekonomi dan sosial.

 

​Berharap Dukungan Pemerintah dan Masyarakat

​Andian mengetuk hati masyarakat agar lebih peduli terhadap isu HIV/AIDS dengan cara aktif memeriksakan kesehatan dini dan menyetop segala bentuk stigma. Baginya, dukungan sosial adalah obat non-medis yang paling mujarab untuk mendongkrak angka harapan hidup ODHIV.

Baca Juga  Manisnya Gula Singkong Cair Banjarnegara, Inovasi Lokal yang Tembus Pasar Nasional

​”Kami berharap masyarakat lebih aware terhadap HIV/AIDS, tidak lagi memberikan stigma dan diskriminasi. Yang dibutuhkan ODHIV adalah dukungan, bukan penghakiman,” tuturnya.

​Selain kepada masyarakat, ia juga menaruh harapan besar agar pemerintah daerah memberikan porsi perhatian dan stimulus yang lebih nyata bagi komunitas pendamping. Pemerintah diharapkan hadir menjadi bagian dari sistem dukungan (support system) yang kokoh dalam peta jalan penanggulangan HIV/AIDS di Banjarnegara.

​”HIV/AIDS bukan alasan untuk mengucilkan seseorang. Dengan pengetahuan yang benar, kepedulian, dan dukungan bersama, stigma dapat dihapuskan dan para penyintas dapat menjalani hidup secara sehat, bermartabat, dan produktif di tengah masyarakat,” pungkasnya.

 

Tanggapan Kades Hoho Tarkait Keputusan Pemkab Banjarnegara Soal Perangkat Desa
Kasus Calo Polri Banyumas, Uang Rp125 Juta Kembali Utuh
Imlek dan Ramadan Makin Dekat, Harga dan Stok Bahan Pokok di Banjarnegara Masih Stabil
Wajah Baru Alun-Alun Purwokerto: Masyarakat Bebas Nikmati Area Rumput
Jadi Buruan Pecinta Dessert, Intip Fenomena ‘War Cheesecake’ di Utomo House Purwokerto, Hidden Gem yang Lagi Viral!
TAGGED:Banjarnegarakds bara plusodhiv
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Threads Copy Link
TAHUN BARU ISLAM 26 CT
Berita Populer
cilacaptoday.comcilacaptoday.com
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Standar Pedoman Penyelesaian Sengketa Pers
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan