Ancaman musim kemarau yang diperkirakan lebih kering pada tahun 2026 mulai diantisipasi serius oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap. Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau di wilayah ini diprediksi mulai berlangsung pada Mei 2026 dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Cilacap langsung mengaktifkan langkah kesiapsiagaan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Termasuk di antaranya empat unit pelaksana teknis (UPT) yang tersebar di wilayah Majenang, Sidareja, Kroya, dan Kota Cilacap.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin kecolongan menghadapi potensi dampak kekeringan, terutama terkait kebutuhan air bersih masyarakat.
“Prediksi dari BMKG menyebutkan kemarau tahun ini akan mulai Mei dan cenderung lebih kering. Karena itu kami sudah bersiap lebih awal untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan,” ujar Taryo, Rabu (1/4/2026).
Siapkan Droping Air Bersih dan Armada
Salah satu fokus utama BPBD adalah memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Taryo menegaskan, pihaknya siap melakukan droping air bersih jika kebutuhan masyarakat meningkat selama musim kemarau.
“Kami sudah siapkan armada untuk droping air bersih. Saat masyarakat membutuhkan, kami siap langsung bergerak,” tegasnya.
Sebagai gambaran, pada musim kemarau panjang 2024 BPBD Cilacap telah menyalurkan sekitar 575 tangki air bersih untuk 28 desa di 15 kecamatan. Sementara terdapat sekitar 105 desa di 20 kecamatan yang masuk kategori rawan kekeringan. Sedangkan pada musim kemarau 2025 intensitasnya lebih pendek.
Untuk tahun ini, BPBD telah menyiapkan tiga armada tangki air, terdiri dari dua unit di kantor induk dan satu unit di UPT Majenang. Selain itu, dukungan juga diperoleh dari berbagai pihak melalui program CSR, serta kerja sama dengan PMI dan Baznas.
“Kalau anggaran terbatas, kami juga dibantu CSR, PMI, dan Baznas. Selama ini kolaborasi berjalan cukup baik,” tambahnya.
Wilayah yang kerap mengajukan bantuan air bersih di antaranya Kecamatan Kawunganten, Jeruklegi, Sidareja, Patimuan, dan Gandrungmangu.
Pusdalops Siaga 24 Jam dan Imbauan ke Warga
Selain distribusi air bersih, BPBD juga mengoperasikan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) selama 24 jam untuk memantau kondisi cuaca dan potensi bencana.
“Pusdalops kami siaga 24 jam untuk memantau perkembangan cuaca, termasuk potensi kekeringan dan kebakaran hutan,” kata Taryo.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk menjaga sumber air, seperti mata air di wilayah pegunungan, serta merawat embung agar tetap berfungsi optimal saat musim kemarau.
“Kalau ada embung bocor segera diperbaiki, supaya saat dibutuhkan bisa dimanfaatkan. Termasuk menjaga kelestarian hutan agar sumber air tetap terjaga,” ujarnya.
Taryo menambahkan, proses pengajuan bantuan air bersih dibuat sederhana agar masyarakat bisa cepat tertangani. “Cukup melalui kepala desa dan diketahui camat, permohonan langsung kami tindak lanjuti. Tidak ada birokrasi berbelit,” tegasnya.
BPBD berharap dampak kekeringan tahun ini tidak sebesar sebelumnya. Namun demikian, masyarakat tetap diminta waspada, termasuk terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan, karena musim kemarau juga berpotensi menimbulkan kebakaran,” pungkasnya.

