Suasana pesisir Kutawaru, Cilacap, berubah lebih hidup saat Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah. Di tengah rindangnya hutan mangrove dan semilir angin laut, Kampoeng Kepiting Kutawaru justru dipadati pengunjung yang ingin menikmati libur Lebaran dengan cara berbeda.
Berlokasi tak jauh dari area operasional Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap, kampung wisata ini kian dikenal sebagai tujuan favorit pecinta kuliner laut. Selain menawarkan hidangan segar langsung dari tambak, pengunjung juga disuguhi panorama alam yang masih alami dan menenangkan.
Aktivitas perahu kecil yang lalu lalang menjadi pemandangan khas, mengantar wisatawan menuju lokasi. Begitu tiba, aroma masakan laut langsung menggoda selera. Beragam menu andalan pun tersaji, mulai dari kepiting cangkang lunak yang renyah, udang segar, hingga aneka olahan seafood khas yang diolah oleh tangan-tangan warga setempat.
Lonjakan Pengunjung dan Omzet Saat Lebaran
Momentum Lebaran membawa berkah tersendiri bagi Kampoeng Kepiting Kutawaru. Pengelola mencatat adanya peningkatan jumlah kunjungan yang cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya.
“Momentum Lebaran terasa sekali. Pengunjung meningkat dan pesanan juga bertambah,” kata pengelola Kampoeng Kepiting Kutawaru, Warrie Anto, Rabu (1/4/2026).
Data menunjukkan, jumlah kunjungan pada Maret 2026 mencapai 623 orang, naik sekitar 18 persen dibanding Februari yang tercatat 526 kunjungan. Peningkatan ini turut berdampak pada omzet yang melonjak lebih dari 37 persen, dari Rp67 juta menjadi Rp92 juta.
Tak hanya warga lokal, pengunjung juga datang dari berbagai daerah seperti Tegal, Purwokerto, hingga Bandung. Mereka tertarik setelah melihat promosi di media sosial maupun rekomendasi dari mulut ke mulut.
Salah satu pengunjung, Hamzah, mengaku datang karena penasaran dan tak menyangka suasana di lokasi begitu menenangkan.
“Tempatnya masih alami, anginnya sejuk, makanannya juga segar. Jadi betah berlama-lama di sini,” ujarnya.
Dari Tambak ke Meja Makan, Kisah Pemberdayaan Warga
Di balik kesuksesan Kampoeng Kepiting, tersimpan cerita pemberdayaan masyarakat pesisir. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Masyarakat Mandiri Kutawaru (Mamaku) yang digagas Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap.
Program tersebut menyasar mantan Anak Buah Kapal (ABK) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI), yang kini beralih profesi menjadi pengelola tambak sekaligus pelaku usaha kuliner.
Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan, menjelaskan bahwa perubahan ini tidak terjadi secara instan. Berbagai pelatihan telah diberikan, mulai dari pengelolaan tambak hingga peningkatan kapasitas di bidang UMKM dan pelayanan wisata.
“Pelatihan yang diberikan membantu warga dalam mengelola usaha, terutama saat jumlah pengunjung meningkat seperti sekarang,” jelasnya.
Kini, Kampoeng Kepiting Kutawaru tak sekadar menjadi tempat makan, melainkan ruang tumbuh bagi ekonomi warga. Dari meja-meja sederhana yang menghadap laut, lahir harapan baru bahwa potensi lokal bisa menjadi sumber kesejahteraan.

