Angka kemiskinan di Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tercatat masih tergolong tinggi. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap untuk segera mengambil langkah cepat, terutama dalam memperkuat pelayanan dasar masyarakat dan mengatasi masalah stunting.
​Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Pejabat Pemda di Kecamatan Cilacap Tengah, Rabu (20/5/2026), sebanyak 37.193 jiwa dari total 95.872 penduduk setempat masuk dalam kategori desil 1 hingga desil 5. Artinya, hampir sepertiga warga di wilayah tersebut berada dalam kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
​”Hasil validasi terakhir menunjukkan ada 13.058 kepala keluarga (KK) dengan total 37.193 jiwa yang masuk desil 1 sampai desil 5. Masalah ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk mempercepat pengentasan kemiskinan,” ujar Camat Cilacap Tengah, Agung Wibowo, Rabu.
​Agung memaparkan, Kecamatan Cilacap Tengah memiliki luas wilayah 51 kilometer persegi yang membawahi lima kelurahan, yakni Donan, Gunungsimping, Sidanegara, Lomanis, dan Kutawaru. Dari kelima wilayah tersebut, Kelurahan Kutawaru menjadi wilayah terluas dengan tantangan geografis yang cukup berat karena aksesnya yang terisolasi dan harus menyeberang laut atau sungai.
​Kondisi kemiskinan ini terbilang ironis mengingat Cilacap Tengah sebenarnya dikepung oleh potensi ekonomi yang besar. Wilayah ini memiliki sektor perikanan yang kuat, UMKM yang menggeliat, hingga keberadaan industri vital nasional seperti PT Pertamina RU IV dan Pertamina Patra Niaga. Namun, roda ekonomi tersebut belum mampu sepenuhnya mengentaskan warga dari jerat kemiskinan.
​Menyikapi tantangan besar ini, Penjabat (Pj) Sekda Cilacap, Annisa Fabriana, menegaskan bahwa Pemkab Cilacap berkomitmen penuh untuk membenahi sektor pendidikan, kesehatan, dan birokrasi pemerintahan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah memperkuat kapasitas aparatur negara di lingkungan pelayanan publik.
​Tahun ini, Pemkab Cilacap resmi mengusulkan kuota pengadaan 534 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) baru. Formasi tersebut difokuskan untuk mengisi posisi pelayanan dasar yang kosong.
​”Formasi ini terdiri dari dua ratusan guru atau tenaga pendidik, dua ratusan tenaga kesehatan (nakes), dan sisanya tenaga teknis. Sifatnya zero growth, jadi untuk mengisi posisi ASN yang pensiun agar pelayanan tidak lumpuh,” jelas Annisa.
​Selain merekrut nakes dan guru baru, Pemkab Cilacap juga bergerak cepat mengisi kekosongan jabatan kepala sekolah di wilayah tersebut. Langkah ini diharapkan dapat mendongkrak mutu pendidikan, terutama bagi anak-anak di wilayah terpencil.
​Annisa mengakui bahwa membenahi persoalan kemiskinan dan pelayanan di Cilacap bukanlah perkara mudah. Kendati demikian, ia mewanti-wanti seluruh jajaran aparatur sipil negara (ASN), mulai dari Asisten Pemda hingga tingkat lurah, untuk menjaga kekompakan demi melayani warga.
​”Saya minta semua tetap semangat, kompak, dan belajar dari masa lalu. Sektor pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan di Cilacap Tengah harus berjalan beriringan agar pelayanan ke masyarakat tetap optimal,” tegas Annisa.






